Nasehat Nan Penuh Kenangan

autumn-1041911__180

Al Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yang mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:

“Ku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991)

Penjelasan Hadits

Al Hafidz Abu Nu‘aim berkata: “Hadits ini jayyid (bagus), termasuk hadits yang shahih dari periwayatan orang-orang Syam.” Beliau juga mengatakan: “Al Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits ini (yakni tidak memuat dalam kitab shahih mereka) bukan karena mengingkarinya.”

Al Hakim menyatakan, Al Bukhari dan Muslim meninggalkan penyebutan hadits ini disebabkan anggapan yang keliru dari keduanya bahwa tidak ada seorang rawi pun yang meriwayatkan dari Khalid bin Ma‘dan kecuali Ats Tsaur bin Yazid, padahal sebenarnya ada perawi lain yang meriwayatkan dari Khalid seperti Buhair bin Sa‘ad, Muhammad bin Ibrahim At Taimi dan selain keduanya.

Namun pernyataan Al Hakim ini dijawab oleh Al Hafidz Ibnu Rajab: “Sebenarnya hal ini tidaklah seperti persangkaan Al Hakim. Adapun Al Bukhari dan Muslim tidak mengambil hadits ini karena hadits ini tidak memenuhi syarat mereka berdua di dalam kitab shahihnya, di mana Al Bukhari dan Muslim sama sekali tidak mengeluarkan dalam shahihnya riwayat dari Abdurrrahman bin Amr As Sulami dan dari Hujr Al Kala`i. Dan juga dua orang rawi yang disebut ini tidaklah terkenal (masyhur) dalam keilmuan dan periwayatan hadits.”

Adapun Abdurrahman As Sulami, salah seorang perawi dalam hadits ini, maka ia masturul hal (keadaannya tidak diketahui), walaupun telah meriwayatkan darinya jama‘ah (sekelompok orang) namun tidak ada seorang alim yang mu‘tabar (teranggap dan diakui keilmuannya) yang men-tsiqah-kannya (menganggapnya terpercaya). Ibnul Qaththan Al Fasi mendha’ifkan (melemahkan) hadits ini karena hal tersebut.

Demikian pula dengan Hujr bin Hujr Al Kala‘i, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Khalid bin Ma‘dan dan tidak ada seorang alim yang mu‘tabar yang men-tsiqah- kannya, sehingga ia dinyatakan majhulul ‘ain (rawi yang tidak dikenal). Berkata Ibnul Qaththan: “Orang ini tidak dikenal.” Namun sebagaimana kata Al Imam Al Hakim di atas, hadits ini diriwayatkan juga dari selain mereka berdua dan disebutkan jalan-jalannya yang saling menguatkan satu dengan lainnya oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum, maka hadits ini hasan. Penghasanan hadits ini dinyatakan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi‘i rahimahullah, walaupun ada sebagian ulama yang menshahihkannya, sehingga mereka bersepakat bahwa hadits ini bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil atau argumen), kecuali Ibnul Qaththan Al Fasi yang mendha’ifkan hadits ini.

(As Sunnah Ibnu Abi Ashim, no. 27, Ash Shahihul Musnad, 2/71, Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 2/110, Mizanul I’tidal, 2/207, Tahdzibut Tahdzib, 2/188, 6/215).

Kandungan Hadits

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya :

“Berilah nasihat kepada mereka dan katakanlah kepada mereka ucapan yang bisa dipahami, mengena dan menancap di jiwa-jiwa mereka.” (An Nisa’: 63)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki sifat selalu memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus terhadap siapa saja dari kalangan umatnya, sehingga ketika para sahabatnya meminta agar beliau memberikan nasihat maka beliau pun memenuhinya diiringi dengan hikmah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyampaikan nasihat senantiasa memilih kata-kata yang tepat, lafadz yang indah, mengena di hati dan menancap dengan dalam. Beliau tidak menyampaikan nasihat dengan kalimat yang panjang lagi bertele-tele, namun cukup dengan kalimat yang ringkas namun mencakup dan dimengerti. Karena itulah beliau dikenal oleh para sahabatnya sebagai orang yang memiliki jawami`ul kalim (perkataan yang ringkas namun padat). Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Aku diutus dengan jawami‘ul kalim.” (HR. Al Bukhari no. 2977 dan Muslim no. 523)

‘Ammar bin Yasir radliallahu anhu pernah menyampaikan khutbah dengan ringkas dan dipenuhi dengan kata-kata yang tepat, ibarat yang indah dan menancap di hati. Seusai khutbah, ada seseorang yang menegurnya. Maka ‘Ammar pun menanggapi dengan jawaban yang tepat: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan ringkasnya khutbahnya merupakan tanda kefaqihannya. Karena itu panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah. Sesungguhnya di antara penyampaian dan ucapan ada yang membuat orang tersihir.” (HR. Muslim no. 869)

Nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika itu sangatlah menancap di hati para sahabatnya hingga hati mereka bergetar dan air mata mereka pun berlinang karenanya. Inilah sifat kaum mukminin tatkala mendengar nasihat dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Hanyalah yang dikatakan orang-orang beriman itu adalah mereka yang ketika disebut nama Allah bergetar hati-hati mereka.” (Al Anfal: 2)

“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau akan melihat mereka berlinangan air mata karena apa yang mereka ketahui dari kebenaran.” (Al Maidah: 83)

Demikianlah nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang seolah-olah beliau akan pergi meninggalkan mereka dengan memberikan nasihat perpisahan. Sebagaimana yang telah diketahui, orang yang akan pergi jauh tidak akan meninggalkan sesuatu yang penting kecuali disampaikan dan dipesankannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/366, ‘Aunul Ma`bud, 12/234).

Setelah mendengar nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabat pun khawatir mereka tidak akan bertemu lagi dengan Rasulullah setelahnya, sehingga untuk menyempurnakan nasihat yang ada, mereka meminta wasiat beliau, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat orang yang akan berpisah, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun memberikan wasiat, di antaranya:

Wasiat untuk Takwa kepada Allah

Berkata ahlul ilmi, takwa merupakan pokok kebaikan dan inti dari segala perkara. Seluruh seruan kepada pintu kebaikan maupun larangan kepada kejelekan terkumpul dalam kalimat takwa ini.

Takwa ini pula merupakan wasiat Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang-orang terdahulu maupun yang belakangan, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberikan Al Kitab sebelummu dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (An Nisa: 131)

Kita diperintah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk berbekal dengannya sebagaimana firman-Nya:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal..” (Al Baqarah: 197)

Oleh karena itu terkumpul dalam takwa ini kebaikan dunia dan akhirat.

Wasiat untuk Mendengar dan Taat

Yang dimaksud dengan mendengar dan taat oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sini adalah kepada para pemimpin kaum muslimin, karena taat kepada mereka akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dimana dengan mentaati mereka akan baiklah kehidupan orang-orang yang dipimpin (rakyat) dan menjadi amanlah negeri, di samping juga dapat membantu menegakkan agama mereka.

Hal ini merupakan kewajiban agama karena Allah telah berfirman:

“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasulullah dan kepada pemimpin di antara kalian.” (An Nisa’: 59)

Kewajiban mendengar dan taat ini tetap berlaku bahkan ketika yang menjadi pemimpin itu seorang budak sekalipun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berpesan: “Tetaplah kalian mendengar dan taat sekalipun yang memimpin kalian itu seorang budak Habasyah (Ethopia) yang rambutnya seperti kismis.” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik no. 7142 dan Muslim dari Abu Dzarr no. 648)

Al Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah menyatakan bahwa sebagian ulama berkata: “Seorang budak tidak bisa menjadi pemimpin, akan tetapi penyebutan pemimpin dari kalangan budak dalam hadits ini hanyalah sekedar permisalan walaupun tidak mungkin terjadi, sama halnya dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Siapa yang membangun masjid untuk Allah walaupun besarnya hanya seperti sarang burung maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” Dan telah diketahui bahwa ukuran sarang burung tidak mungkin dapat digunakan oleh manusia sebagai masjid, akan tetapi di sini hanya didatangkan sebagai permisalan.”

Dimungkinkan pula di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan rusaknya perkara apabila diserahkan urusan kepada selain ahlinya, sampai akhirnya kepemimpinan diserahkan kepada seorang budak (yang dia bukan ahlinya). Sehingga andaikan permisalan yang disebutkan itu terjadi, tetaplah kalian mendengar dan taat (dalam rangka menolak kemudharatan yang lebih besar walaupun) terpaksa menempuh kemudharatan yang lebih ringan di antara dua kemudharatan yang ada, dengan bersabar atas kepemimpinan seseorang yang sebenarnya tidak boleh menjadi pemimpin. Yang mana apabila membangkang kepadanya akan mengantarkan kepada fitnah yang besar.” (Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, hal. 75)

Tentunya ketaatan kepada pemimpin itu sebatas dalam perkara yang ma‘ruf (kebaikan), tanpa melanggar hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketaatan itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR. Al Bukhari no. 4340 dan Muslim no. 1840)

Wasiat untuk Berpegang Teguh dengan Sunnah

Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigit/pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”

Ini merupakan salah satu tanda di antara tanda-tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di mana beliau mengabarkan kepada para sahabatnya tentang perkara yang akan datang sepeninggalnya, yakni akan terjadi perselisihan yang banyak di kalangan umat beliau. Hal ini sesuai dengan pengabaran beliau bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 70 lebih golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yang selamat yaitu mereka yang berpegang dengan apa yang dipegangi oleh Rasulullah dan para sahabatnya. (Shahih Sunan At Tirmidzi, no.2129)

Karena itulah, sebagai bahtera penyelamat dari gelombang perselisihan dan perpecahan ini adalah berpegang teguh dengan sunnah beliau dan para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Saking kuatnya keharusan berpegang tersebut hingga diibaratkan seperti menggigit dengan geraham (Jami’ul ‘Ulum, 2/126). Ditambahkan oleh Syaikhul Islam bahwa dikhususkannya penyebutan geraham dalam hadits ini karena gigitan gigi geraham ini sangat kokoh. (Majmu` Fatawa, 22/225).

Kata Al Imam As Sindi: “Hal ini menunjukkan keharusan untuk bersabar terhadap kepayahan yang menimpanya di jalan Allah, sebagaimana yang harus dihadapi orang yang sakit terhadap derita yang menimpanya dari sakitnya.” (Syarah Ibnu Majah, Al Imam As Sindi).

Adapun sunnah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini adalah jalan hidup beliau yang lurus dan jelas. (Syarhul Arba’in, hal. 75).

Selain mengikuti Sunnah beliau, diperintahkan pula setelahnya untuk memegangi sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin dan mereka yang dimaksud di sini adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radliyallahu ‘anhum, kata Ibnu Daqiqil `Ied. Para khalifah ini disifatkan dengan (Ar Rasyidin) karena mereka mengetahui, mengenali kebenaran dan memutuskan dengannya. Mereka adalah (Al Mahdiyyin) karena Allah telah memberi petunjuk mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka dari kebenaran tersebut. (Syarhul Arba’in, hal. 75, Jami`ul ‘Ulum, 1/127)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggandengkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan Sunnah beliau karena para khalifah ini tatkala menetapkan sunnah bisa jadi mengikuti Sunnah Nabi itu sendiri, dan bisa pula mereka mengikuti apa yang mereka pahami dari Sunnah Nabi secara global dan rinci, yang mana perkara tersebut tersembunyi bagi yang lainnya. (Al I’tisham, 1/118)

Al Imam Asy Syaukani dalam Al Fathur Rabbani mengatakan: “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, sehingga seakan-akan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Tempuhlah jalanku dan jalannya Al Khulafa’ Ar Rasyidin’. Jalannya Al Khulafa’ Ar Rasyidin di sini sama dengan jalannya Rasulullah karena mereka merupakan orang yang paling bersemangat dalam berpegang dengan Sunnah beliau dan mengamalkannya dalam segala perkara. Bagaimana pun keadaannya, mereka sangatlah berhati-hati dan menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke dalam perkara yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sekalipun dalam perkara yang terbilang kecil, terlebih lagi dalam perkara yang besar.”

Beliau kemudian melanjutkan: “Minimal dari faidah hadits ini adalah ra`yu (pendapat) yang bersumber dari mereka adalah lebih utama dari pendapat orang selain mereka, sekalipun ternyata setelah ditinjau kembali hal itu merupakan Sunnah Rasulullah, dan juga lebih baik daripada tidak ada dalil.” (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/367)

Wasiat untuk Berhati-hati dari Bid‘ah

Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:“Hati-hati kalian dari perkara-perkara baru”, merupakan peringatan kepada umat beliau dari perkara baru yang diada-adakan lalu disandarkan kepada agama sementara perkara tersebut tidak ada asalnya sama sekali di dalam syariat ini. Dan beliau tekankan lagi peringatan beliau ini dengan sabdanya: “ karena setiap bid`ah itu sesat”.

Adapun ucapan para ulama yang menganggap baik sebagian bid‘ah maka kembalinya hal tersebut kepada pengertian bid‘ah secara bahasa bukan bid‘ah menurut syariat. Seperti perkataan Umar radliallahu anhu ketika melihat kaum muslimin shalat tarawih berjamaah dipimpin seorang imam, ia berucap: “Sebaik-baik bid‘ah adalah perbuatan ini.”

Shalat tarawih berjamaah ini bukanlah bid‘ah dalam pengertian syar‘i karena perbuatan ini telah ada asalnya dalam syariat, di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melakukannya bersama para sahabat selama beberapa malam dari malam-malam Ramadhan. Adapun Umar hanya menghidupkannya kembali setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak melanjutkan pelaksanaannya karena khawatir perkara tersebut akan diwajibkan kepada umat beliau, sementara mungkin ada di antara mereka yang tidak mampu melaksanakannya.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish shawaab
Dikutip dari http://www.asysyariah.com, Penulis : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsary , Judul asli: Nasehat Nan Penuh Kenangan
Sumber : qurandansunnah.wordpress.com

Iklan

Keistimewaan Shalat atas Ibadah-Ibdah Yang Lainnya

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalat adalah salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada para hamba-Nya. Kedudukan shalat di dalam Islam sangatlah penting karena ia memiliki beberapa kelebihan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah yang lainnya. Beberapa keistimewaan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang ditetapkan di langit yaitu pada peristiwa Mi’raj. Adapun ibadah-ibadah yang lainnya disyariatkan di bumi.

2. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang ditetapkan oleh Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tanpa melalui perantara Jibril ‘alaihis salam, yaitu pada malam peristiwa Mi’raj. Adapun ibadah-ibadah yang lainnya ditetapkan melalui perantara Jibril.

Kisah mengenai peristiwa Isra` dan Mi’raj, dapat dilihat di kitab Shahih Al Bukhari nomor 3887 bab Al Mi’raj.

3. Meskipun shalat wajib itu telah dikurangi jumlahnya dari lima puluh waktu menjadi hanya lima waktu dalam sehari, namun pahalanya adalah sama.

Seseorang yang melaksanakan shalat fardhu lima waktu, maka dia akan mendapat pahala yang sama seperti melaksanakan shalat lima puluh waktu. Alasannya adalah karena satu kebaikan dibalas oleh Allah dengan sepuluh kebaikan.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa yang membawa suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan (pahala) sepuluh kali lipatnya.” [QS Al An’am: 160]

Di dalam sebuah hadits disebutkan:

فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Sesungguhnya satu kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya.” [HR Al Bukhari (1976) dan Muslim (1159) dari Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma.]

4. Karena pentingnya, shalat ditempatkan pada urutan kedua di dalam rukun Islam yang lima setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: syahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan.” [HR Al Bukhari (8) dan Muslim (16)]

5. Karena pentingnya juga, shalat adalah ibadah yang paling pertama diperiksa oleh Allah ta’ala pada hari kiamat kelak.

Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة

“Sesungguhnya amalan manusia yang paling pertama kali diperiksa pada hari kiamat adalah shalat.” [HR Abu Daud (864). Hadits shahih.]

6. Shalat hukumnya wajib atas seluruh manusia yang telah mukallaf. Sedangkan pada sebagian ibadah yang lainnya, ia tidaklah diwajibkan kecuali hanya kepada mereka yang mampu untuk melaksanakannya.

Contohnya adalah zakat, ia hanya wajib bagi mereka yang memiliki harta dan hartanya itu telah mencapai nishab dan melewati satu haul. Ibadah haji hanya wajib bagi mereka yang mempu untuk melakukan perjalanan ke Baitullah di Mekkah. Begitu pula puasa, ia hanya wajib bagi mereka yang sanggup berpuasa dan tidak memiliki uzur, seperti haid, sakit, dan safar.

Adapun shalat fardhu, ia tetap wajib kepada setiap mukallaf kapanpun dan di manapun, baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, ataupun sedang bermukim ataupun sedang melakukan perjalanan. Di dalam semua keadaan tersebut, shalat tetap wajib untuk dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan, kecuali pada keadaan tertentu seperti ketika haid ataupun hilang kesadaran.

7. Ibadah shalat mengandung berbagai jenis bentuk ibadah di luar shalat.

Shalat mengandung berbagai jenis zikir, seperti takbir, tahmid, tasbih, dua kalimat syahadat, dan shalawat kepada Nabi. Shalat juga mengandung ibadah membaca Al Qur`an, baik itu surat Al Fatihah ataupun surat-surat yang lainnya. Shalat juga mengandung ibadah doa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Demikianlah beberapa keistimewaan shalat yang tidak dijumpai pada ibadah-ibadah yang lainnya.

Sumber : Dari sini

Catatan : Artikel ini saya posting khusus sebagai pengingat diri dan sesama akan pentingnya shalat, semoga bermanfaat.

Hukum Anak Angkat Dalam Islam

Hukum Anak Angkat dalam Islam

Tanya:

Bolehkah menjadikan anak orang lain sebagai anak angkat dalam keluarga kita di mana kita menganggapnya seperti anak sendiri? Lalu bagaimana hijab dengannya bila si anak sudah baligh?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, “Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat anak memperlakukan anak angkat mereka seperti anak mereka yang hakiki atau seperti anak kandung dari segala sisi; dalam hal warisan, dalam hal bolehnya anak angkat tersebut berkhalwat (bersepi-sepi) dengan istri mereka, dan dianggapnya istri mereka sebagai mahram bagi anak angkat tersebut.

Adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, maula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di masa sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi, dipanggil dengan Zaid bin Muhammad (karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak). Maka Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak untuk menghapuskan semua anggapan orang-orang jahiliah tersebut berkaitan dengan anak angkat. Datanglah syariat Islam dalam masalah anak angkat ini berikut hukum-hukumnya yang tegas sebagaimana tersebut berikut ini:

  1. Menghapus dan melarang adanya anak angkat yang dianggap sebagai anak yang hakiki dalam segala sisi, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚذَ‌ٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ

Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian….” (Al-Ahzab: 4-5)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan bahwa ucapan seseorang kepada anak orang lain dengan “anakku” tidaklah berarti anak tersebut menjadi anaknya yang sebenarnya yang dengannya ditetapkan hukum-hukum bunuwwah (anak dengan orangtua kandungnya). Bahkan tidaklah mungkin anak tersebut bisa menjadi anak kandung bagi selain ayahnya. Karena, seorang anak yang tercipta dari sulbi seorang lelaki tidaklah mungkin ia dianggap tercipta dari sulbi lelaki yang lain, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang memiliki dua hati/jantung1. Dan Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar mengembalikan penasaban anak-anak angkat tersebut kepada ayah kandung mereka, bila memang diketahui siapa ayah kandung mereka. Bila tidak diketahui maka mereka adalah saudara-saudara kita seagama dan maula kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan bahwa yang demikian ini lebih adil di sisi-Nya.

  1. Memutuskan

dengan ayah angkatnya. Hal ini terkandung dalam ayat-ayat yang telah dibawakan di atas2. Juga disebutkan bahwa dalam perkara hubungan waris antara anak angkatanak angkat, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat:

وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ

Dan jika ada orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya3.” (An-Nisa’: 33)

Ibnu Jarir rahimahullahu mengeluarkan riwayat dari Sa’id ibnul Musayyab rahimahullahu yang menyatakan, “Ayat ini hanyalah turun terhadap orang-orang yang dulunya menganggap anak pada selain anak kandung mereka dan mereka memberikan warisan terhadap anak-anak angkat tersebut. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam perkara mereka. Untuk anak-anak angkat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan bagian dari harta (orangtua/ayah angkat mereka) dalam bentuk wasiat4, sementara warisan dikembalikan kepada yang berhak dari kalangan dzawil arham5 dan ‘ashabah6. Allah ‘Azza wa Jalla meniadakan adanya hak waris dari orangtua angkat untuk anak angkat mereka, namun Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan adanya bagian harta untuk anak angkat tersebut dalam bentuk wasiat.”7

  1. Dihalalkannya mantan istri anak angkat (setelah perceraian keduanya) untuk dinikahi oleh ayah angkatnya. Hal ini tampak dengan Allah ‘Azza wa Jalla menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya merupakan anak angkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum turunnya ayat-ayat yang melarang hal tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan hikmah dari kejadian tersebut dengan firman-Nya:

زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا

“Kami nikahkan dia denganmu agar tidak ada keberatan bagi kaum mukminin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak angkat tersebut telah menyelesaikan urusan dengan istri-istri mereka (telah bercerai).” (Al-Ahzab: 37)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat yang menyebutkan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:

وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ

“…dan istri-istri dari anak-anak kandung kalian….” (An-Nisa’: 23)

Berarti dikecualikan dalam hukum pengharaman tersebut para istri anak-anak angkat (boleh dinikahi oleh ayah angkat suaminya bila mereka telah bercerai).

  1. Keharusan istri ayah angkat untuk berhijab dari anak angkatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Sahlah bintu Suhail istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, tatkala Sahlah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulunya menganggap Salim seperti anak kami sendiri. Sementara Allah telah menurunkan ayat tentang pengharaman anak angkat bila diperlakukan seperti anak kandung dalam segala sisi. Padahal Salim ini sudah biasa masuk menemuiku (tanpa hijab)….”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menetapkan kepada Sahlah ketidakbolehan ikhtilath dengan anak angkat setelah turunnya ayat Al-Qur’an tersebut. Jalan keluarnya, beliau menyuruh Sahlah agar memberikan air susunya kepada Salim, dengan lima susuan yang dengannya ia menjadi mahram bagi Salim (yakni sebagai ibu susu, pent.)

  1. Ancaman yang ditekankan dan peringatan yang keras bagi orang yang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya. Dalam hal ini ada ayat Al-Qur’an yang di-mansukh (dihapus) bacaannya namun hukumnya tetap berlaku, yaitu:

وَلَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ

“Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”

Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كُنَّا نَقْرَأُ: وَلاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ

Kami dulunya membaca ayat: “Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”

Dalam hadits yang shahih dinyatakan:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

Siapa yang mengaku-aku bernasab kepada selain ayahnya dalam keadaan ia tahu orang itu bukanlah ayah kandungnya maka surga haram baginya.”8

Tersisa sekarang dua perkara dalam masalah menyebut anak pada selain anak kandung dan penasaban kepada selain ayah kandung. Kita akan sebutkan berikut ini:

Pertama: Apabila seseorang memanggil seorang anak dengan panggilan/sebutan ‘anakku’ (padahal bukan anaknya yang sebenarnya) untuk memuliakan dan menyatakan kecintaannya kepada si anak, hal ini tidaklah termasuk dalam larangan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

قَدَّمَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُغَيْلِمَةَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى حُمُرَاتٍ لَنَا مِنْ جَمْعٍ، فَجَعَلَ يَلْطَخُ أَفْخَاذَنَا وَيَقُوْلُ: أُبَيْنـِيَّ –تَصْغِيرُ ابْنِي– لاَ تَرْمُوا الْجُمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

(Pada malam Muzdalifah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengedepankan kami anak-anak kecil dari Bani Abdil Muththalib (lebih awal meninggalkan tempat tersebut/tidak mabit, pent.) di atas keledai-keledai kami. Mulailah beliau memukul dengan perlahan paha-paha kami seraya berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai matahari terbit.”9

Ini dalil yang jelas sekali, karena Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika hajjatul wada’ (haji wada’) berusia sepuluh tahun.

Kedua: Orang yang sudah terlalu masyhur dengan sebutan yang mengandung penasaban kepada selain ayahnya, seperti Al-Miqdad ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang lebih masyhur dengan Al-Miqdad ibnul Aswad, di mana hampir-hampir ia tidak dikenal kecuali dengan penasaban kepada Al-Aswad ibnu Abdi Yaghuts yang di masa jahiliah mengangkatnya sebagai anak, maka ketika turun ayat yang melarang penasaban kepada selain ayah kandung, disebutlah Al-Miqdad dengan ibnu ‘Amr. Namun penyebutannya dengan Al-Miqdad ibnul Aswad terus berlanjut, semata-mata sebagai penyebutan bukan dengan maksud penasaban. Yang seperti ini tidak apa-apa sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, dengan alasan yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu bahwa tidak pernah didengar dari orang terdahulu yang menganggap orang yang dipakaikan baginya sebutan tersebut telah berbuat maksiat.10”. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Fatawa wa Rasa’il Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, 9/21-25, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 889-891)

Catatan kaki:

1 Awal ayat di atas berbunyi:

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati/jantung dalam rongganya….” (Al-Ahzab: 4)

2 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat ke 6 surah Al-Ahzab:

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ

Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin (yang lain yang tidak punya hubungan darah) dan orang-orang Muhajirin….”

3 Awal ayat ini adalah:

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya….”

4 Wasiat di sini tidak lebih dari 1/3 harta si mayit.

5 Dzawil arham adalah semua kerabat mayit yang tidak mendapat bagian fardh dan ta’shib dari harta warisan.

Ahli waris terbagi dua:

– Ada yang mendapat bagian warisan dengan fardh yaitu ia mendapat bagian yang tertentu kadarnya, seperti setengah atau seperempat.

– Ada yang mendapat bagian warisan dengan ta’shib yaitu kadarnya dari warisan tidak ada penentuannya.

6 ‘Ashabah adalah kerabat mayit yang mendapat bagian dari harta warisan tanpa ada batasan tertentu, bahkan bila dia cuma sendirian, dia berhak mendapat semua harta si mayit.

7 Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 4/57.

8 HR. Al-Bukhari no. 4326 dan Muslim no. 217.

9 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu

10 Tafsir Al-Qurthubi, 14/80.

Sumber: Majalah Asy Syariah vol. iv/no. 46/1429H, hal. 86-89 dari http://akhwat.web.id Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm Alusy Syaikh rahimahullâhu Judul: Anak Angkat dalam Islam

Sumber : qurandansunnah.com

Kapan Ajal Itu Datang, Kita Tak Pernah Tahu

Yang akan saya uraikan dalam postinganku kali ini adalah soal kematian, tepatnya adalah kisah-kisah kematian. Saya angkat masalah kematian semata-mata untuk mengingatkan kita bahwa dia (kematian) itu pasti akan datang menemui kita…jangan serem dulu aahhh. Ikuti kisahnya berikut ini :

Sebuah Surat kabar Al-Qasham yang telah lama terbit di Saudi–menyebutkan bahwa seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan sebuah perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta untuk membangunkannya jika telah dekat waktunya. Pemuda itu pun tidur. Sementara itu si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang pada anak satu-satunya itu.

Karena itu, dia tidak membangunkan anaknya dengan harapan dia tidak jadi pergi pada hari itu, lantaran cuaca sangat tidak mendukung. Dia takut akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Ketika dia sudah yakin bahwa waktu perjalanan telah lewat, dan pesawat telah tinggal landas, ibu tersebut lalu membangunkan anaknya. Apa yang terjadi…ternyata si anak telah meninggal dunia di tempat tidurnya. Sahabat, demikianlah kematian atau ajal itu datang, tidak pernah kita tahu sebelumnya, karena itu merupakan rahasia Allah seperti dalam firman-Nya berikut ini, “Katakanlah,’Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.Al-Jumu’ah :8)

Karena itu tak usah takut dan tak perlu kita lari dari kematian, yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya, perbanyak amal kebaikan, ibadah dan berusaha maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Yang lari dari kematian, akan menemukan kematian itu sendiri. Jika ajal manusia telah tiba, apa-pun bisa membunuhnya, seperti yang terjadi pada kisah berikut ini.

Syeikh Ali ath-Thanthawi dalam sebuah siaran radio dan televisinya mengabarkan bahwa di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memiliki sebuah mobil truk Lorie. Ketika mobil itu dijalankan, tanpa diktehuinya di atas badan bobil itu ada orang. Mobil itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan. Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itupun bangun dan masuk dalam peti agar tidak kena hujan dan membungkuskan dirinya dengan kain yang ada dalam peti. Kemudian di tengah jalan ada seorang yang lain naik menumpang ke bak mobil itu di samping keranda. Dia tidak tahu, bahwa di dalam peti itu ada orang. Hujan belum juga berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak mobil itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur keluar (untuk memastikan apakah di luar, hujan sudah berhenti atau belum). Ketika itu terjulur, kain yang membungkusnya juga ikut terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada dalam peti itu hidup kembali. Karena saking takutnya, dia terjungkal dari mobil dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati.

Sahabat, demikianlah Allah menentukan kematian orang itu dengan cara seperti itu.

Segala sesuatu sesuai dengan qadha’ dan qadar,
dan kematian adalah sebaik-baik pelajaran.

Yang selalu harus diingat oleh seorang hamba adalah bahwa dia sedang membawa kematian, dan bahwa dia sedang menunggu kematian itu entah akan datang pagi atau sore. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

“Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah beramal dan tidak hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Ungkapan Ali ini mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, memperbaharui taubatnya, dan mengetahui bahwa dia sedang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Mulia, Kuat, Agung dan Baik.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa pun, tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak memberikan aba-aba terlebih dahulu. seperti dalam firman-Nya berikut ini,

“Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengethui dengan pasti di bumi mana dia akan mati”. (QS.Luqman:34)

Zikir Pagi Dan Petang Dan Keutamaannya

Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)

Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.

Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaannya dan penjelasan tentang keutamaannya adalah sebagai berikut:

  1. Membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. Dari Anas yang dia memarfu’kannya (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan/memerdekakan empat orang dari keturunan Nabi Isma’il (bangsa ‘Arab). Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat ‘ashar sampai terbenamnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan empat orang (budak).” (HR. Abu Dawud no.3667 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih Abu Dawud 2/698)

  1. Membaca ayat kursi (Al-Baqarah:255)

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. “Barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin).” (HR. Al-Hakim 1/562 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

  1. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas.

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membacanya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidziy 5/567, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/182)

  1. Membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Jika sore hari membaca:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ … رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا …

Dibaca sekali. (HR. Muslim 4/2088 no.2723 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Jika sore hari membaca:

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Dibaca sekali. (HR. At-Tirmidziy 5/466, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya dalam keadaan yakin dengannya ketika sore hari lalu meninggal di malam harinya, niscaya dia akan masuk surga. Dan demikian juga apabila di pagi hari.”(HR. Al-Bukhariy 7/150)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.22 dan Ibnus Sunniy no.69, serta Al-Bukhariy di dalam Al-Adabul Mufrad dan dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz di dalam Tuhfatul Akhyaar hal.26)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ، وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidziy, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)

  1. Membaca:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore, tidak akan membahayakannya sesuatu apapun.” (HR. Abu Dawud 4/323, At-Tirmidziy 5/465, Ibnu Majah dan Ahmad, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332)

  1. Membaca:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka ada hak atas Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.”

Boleh juga membaca:

… وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً

(HR. Ahmad 4/337, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.4 dan Ibnus Sunniy no.68, Abu Dawud 4/418, At-Tirmidziy 5/465 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz di dalam Tuhfatul Akhyaar hal.39)

  1. Membaca:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Al-Hakim dan beliau menshahihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabiy 1/545, lihat Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

  1. Membaca:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Jika sore hari membaca:

أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ …

Dibaca sekali. (HR. Ahmad 3/406, 407, Ibnus Sunniy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.34, lihat Shahiihul Jaami’ 4/209)

  1. Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Dibaca 100x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membacanya seratus kali ketika pagi dan sore maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat yang lebih utama daripada apa yang dia bawa kecuali seseorang yang membaca seperti apa yang dia baca atau yang lebih banyak lagi.” (HR. Muslim 4/2071)

  1. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dibaca 10x. (HR. An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.24, lihat Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/272)

Atau dibaca sekali ketika malas/sedang tidak bersemangat. (HR. Abu Dawud 4/319, Ibnu Majah, Ahmad 4/60, lihat Shahih Abu Dawud 3/957 dan Shahih Ibnu Majah 2/331)

  1. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dibaca 100x ketika pagi. “Barangsiapa yang membacanya seratus kali dalam sehari maka (pahalanya) seperti membebaskan sepuluh budak, ditulis untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan dia akan mendapat perlindungan dari (godaan) syaithan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada apa yang dia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhariy 4/95 dan Muslim 4/2071)

  1. Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dibaca 3x ketika pagi. (HR. Muslim 4/2090)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Dibaca sekali ketika pagi. (HR. Ibnus Sunniy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.54, Ibnu Majah no.925 dan dihasankan sanadnya oleh ‘Abdul Qadir dan Syu’aib Al-Arna`uth di dalam tahqiq Zaadul Ma’aad 2/375)

  1. Membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Dibaca 100x dalam sehari. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baari 11/101 dan Muslim 4/2075)

  1. Membaca:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Dibaca 3x ketika sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya ketika sore tiga kali maka tidak akan membahayakannya panasnya malam itu.” (HR. Ahmad 2/290, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/187 dan Shahih Ibnu Majah 2/266)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Dibaca 10x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku ketika pagi sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabraniy dengan dua sanad, salah satu sanadnya jayyid, lihat Majma’uz Zawaa`id 10/120 dan Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

Inilah di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan dibaca ketika pagi dan sore. Ada juga bacaan yang lainnya akan tetapi kebanyakan sanadnya dha’if sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dan Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy. Walaupun tidak menutup kemungkinan sebagiannya ada yang shahih.

Lafazh-lafazh dzikir ini belum diterjemahkan mengingat terbatasnya tempat. Bagi yang ingin melihat terjemahan dan keterangannya bisa dilihat dalam “Perisai Seorang Muslim: Doa dan Dzikir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah“.

Keutamaan Shalat Isyraaq

Dengan membaca dzikir-dzikir tersebut kita bisa mengamalkan sunnah yang lainnya yaitu shalat isyraaq (shalat ketika telah terbitnya matahari sekitar 15-20 menit). Hal ini dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِيْ جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidziy no.591 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy no.480, Al-Misykat no.971 dan Shahih At-Targhiib no.468, lihat juga Shahih Kitab Al-Adzkaar 1/213 karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy)

Betapa besarnya keutamaan amalan tersebut! Selayaknya bagi kita untuk melaksanakannya semaksimal mungkin. Jangan sampai terlewat pahala yang begitu besar ini. Jangan sampai waktu kita terbuang untuk ngobrol kesana kemari yang sifatnya mubah sehingga hilanglah kesempatan mendapatkan pahala yang besar ini. Konsentrasikanlah setelah shalat shubuh dengan dzikir. Dzikir setelah shalat subuh dilanjutkan dengan dzikir pagi sampai selesai. Kemudian membaca Al-Qur`an atau muraja’ah hafalan sampai terbit matahari sekitar 15-20 menit. Setelah itu kita shalat dua raka’at yang diistilahkan dengan shalat isyraaq (jangan shalat ketika tepat matahari terbit, karena hal ini dilarang di dalam syari’at).

Janganlah waktu ini disibukkkan dengan urusan lain yang kurang penting. Kecuali amalan lain yang mempunyai keutamaan yang besar seperti ta’lim atau urusan lainnya yang sifatnya sangat urgen dan mendesak. Mudahan-mudahan kita mendapatkan pahala yang besar ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tersebut. Aamiin. Wallaahu A’lam.

Maraaji’: Hishnul Muslim karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahih Kitab Al-Adzkar wa Dha’ifuhu, Syarh Riyadhush Shalihin bab Adz-Dzikr ‘indash Shabah wal Masa`, dan Al-Kalimuth Thayyib karya Ibnu Taimiyah.

Dikutip dari: http://fdawj.co.nr Penulis: Buletin Dakwah Al Wala’ Wal Bara’ , Judul: Keutamaan Dzikir Pagi & Sore

Baca Risalah terkait ini:
1.Istighfar yang Paling Utama
2.Kumpulan Dzikir dan Do’a (Hisnul Muslim 1) Perisai Seorang Muslim
3.Kumpulan Dzikir dan Do’a (Hisnul Muslim 2) Perisai Seorang Muslim
4.Rasulullah Berdzikir dengan Jari Kanannya, Tanpa Alat Tasbih
5.Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib
6.Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Tuntunan Rasulullah Serta Keutamaannya
7.Doa Senjata Orang Yang Beriman
8.KUMPULAN DZIKIR DAN DO’A

Kematian Itu Datang Dengan Caranya Sendiri

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan oleh majalah Tarbawi edisi 148/ tanggal 1 Pebruari 2007, dan kini saya posting ulang di sini agar bisa dibaca oleh banyak orang, semoga semua tercerahkan. Ikuti teksnya berikut ini.
Yang diinginkan Al Ghazali ternyata hanya jawaban yang begitu singkat. Tetapi mendalam dan penuh makna. Sesuatu yang barangkali tidak sempat terlintas di benak mereka, sehingga sebagian mereka tampak terhenyak mendengar penjelasan Sang guru.
 Al Ghazali, sang tokoh sufi itu, telah berkata benar. Mati, atau kematian, atau ajal memang sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh akal manusia, tidak terduga dan idak pula bisa diraba oleh tangan, tapi ia begitu dekat dan pasti akan datang kepada siapa saja, kepada semua makhluk yang bernyawa. Tak ada yang terkecuali selain Allah, Dzat yang telah menciptakan kematian sebagai akhir dari kehidupan.
Begitu dekatnya kematian itu dengan kita, hampir setiap saat ia melintas di hadapan kita, menjemput dan menggilir orang-orang di sekitar kita, Entah mereka kerabat, tetangga, atau kenalan kita, atau juga saudara-saudara kita nun jauh di tempat lain, yang berita kematiannya selalu mengisi lembaran-lembaran media, cetak dan elektronik, karena bencana atau peperangan yang mengantarkan mereka kepada kematian.
Kematian itu datang dengan caranya sendiri, yang bermacam-macam, dengan sebuah targedi yang dahsyat atau dengan sesuatu yang sepele; tiba-tiba atau dengan perantaraan sakit yang parah. Tapi apapun sebabnya, sebutannya selalu sama; mati, dan hasilnya juga tidak pernah berbeda; memaksa hidup berhenti dan memutus segala kenikmatan yang ada.
Mati sesungguhnya adalah sebuah nasihat yang tak berbicara yang dikirim Allah swt. untuk kita, agar kita selalu ingat kepada-Nya, agar kita tidak hanyut oleh kemewahan dunia dan lupa berbekal untuk menghadapi kehidupan akhirat yang lebih panjang, dan agar tertanam rasa takut di hti kita akan kematian itu, jika ia datang menjemput sementara kita masih bergelimang dosa dan maksiat. Dan inilah yang menyebabkan para pendahulu kita selalu berhadapan dengan kematian.
Mari kita simak dan belajar dari akhir kehidupan para salafushalih terdahulu, orang-orang yang terdepan dari umat ini, para pemimpin dan ulama kaum muslimin. Sungguh mereka dalam kesusahan dan begitu takut kalau menghadap Allah swt. dalam keadaan membawa dosa dan kemaksiatan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah saw tatkala menjelang wafat, disediakan untuk beliau sebuah wadah air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkan ke wajahnya seraya bersabda, “La laaha illallah, sesungguhnya di dalam kematian ada sakaratul maut.” Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya lalu mengatakan, “Fir Rafiqil A’la.” Kalimat yang diucapkan setiap nabi menjelang ajalnya, dan setelah itu beliaupun kembali menghadap Rabbnya dengan tangan yang terkulai lemas.
Umar bin khattab ra, sahabat yang terkenal keras dan tegas itu, ketika menjelang ajalnya berkata kepada puteranya Abdullah, “Letakkan pipiku di atas tanah!” Namun Abdullah enggan untuk melakukannya. Umarpun menegaskan permintaannya itu hingga tiga kali, “Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah melihatku dalam keadaan demikian, dan Dia lalu mengasihaniku.” Diriwayatkan bahwa Umar terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua matanya seraya mengatakan, “Celakalah Umar, celaka juga ibunya jika Allah tidak memaafkannya.”
Demikian pula Abu Hurairah ra, ketika sakitnya semakin keras ia menangis. Seorang sahabatnya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis bukan karena dunia ini, namun aku menangisi perjalanan setelah ini (dunia), bekalku yang sedikit, lalu aku akan menapaki tempat yang menanjak lagi amat luas, sementara aku tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga.”
Utsman bin Affan, Abu Darda’, Atha’ As Sulami, Muhammad Al Munkadir, Shufyan Ats Tsauri, dan para salafushalih lainnya yang amal kebaikannya mungkin tak pernah bisa kita tandingi, juga menangis di saat-saat akhir kehidupan mereka karena sangat khawatir kalau kebaikan mereka tak dapat menutupi kesalahan-kesalahan mereka di sisi Allah.
Karena itulah maka kita sesungguhnya patut merenungi nasihat Syafiq bin Ibrahim yang berkata, “Bersiap-siaplah kalian semua di dalam menghadapi kematian, jangan sampai ketika ia datang lalu kalian minta dikembalikan lagi ke dunia (karena belum beramal).”
Hari ini, kita menyaksikan dan bahkan mungkin merasakan dalam diri kita masing-masing, bahwa tragedi kematian yang saban hari kita jumpai, seperti tidak lagi menjadi sesuatu yang dapat memberi pengaruh besar untuk mengembalikan kesadaran kita dari kelalaian dan kealpaan, seperti pengaruhnya terhadap para pendahulu kita. Mereka, para salafushalih itu, di antara mereka bahkan ada yang berpura-pura mati dengan mengubur diri ketika godaan dunia mereka rasakan begitu kuat mempengaruhi jiwa mereka. Sementara kita, nasihat kematian terasa sudah tidak begitu kuat mempengaruhi jiwa spiritual kita. Kematian tetangga, teman sebaya, atau saudara kita seperti tidak membuat berpikir bahwa giliran kematian itu semakin dekat dengan kita.
Hilangnya pengaruh itu mungkin disebabkan oleh kecintaan kita kepada dunia yang sudah berlebihan, sehingga rasa takut kita berubah menjadi kebencian, seperti yang pernah diingatkan oleh Rasulullah saw. Atau mungkin pula karena hati kita sudah tertutup oleh karat-karat dosa, sehingga peringatan sedahsyat apapun sudah tidak memberi bekas lagi. Atau mungkin juga karena kita sudah terlalu sering bertemu degan kematian, sehingga ia menjadi sesuatu yang biasa. Kematian personal yang     kita saksikan sudah tidak memberi hentakan pada hati dan perasaan kita.  Karena itu, maka Allah tidak pernah berhenti mengirimkan kepada kita bencana-bencana yang dahsyat untuk membangunkan kita dari buaian maksiat dan dosa.
Memang, pengaruh kematian personal tidak sekuat pengaruh kematian massal. Banyak orang yang baru tersadar setelah melihat manusia-manusia di sekitarnya terceracut nyawanya seperti tercerabutnya rumput-rumput kecil dari akarnya. Karenanya, Allah swt selalu mnyentak kesadaran orang-orang yang sulit disadarkan dengan mengirimkan kematian yang massal. Sehingga mereka yang menyaksikan itu, ataupun orang yang terselamatkan darinya, mau mengambil pelajaran.
Sepanjang sejarah kehidupan manusia, dari umat-umat para nabi hingga kita saat ini, ada banyak peristiwa dahsyat yang sengaja Allah kirimkan kepada kaum-kaum yang melampaui batas agar mereka kembali ke jalan yang benar. Imam Ath Thabari, Ibnu Katsir, Al Yafi’i, dan Utsman bin Basyar dalam buku-buku sejarah yang mereka tulis menuturkan banyak kisah kematian massal yang ditimpakan kepada orang-orang yang lalai, agar mereka kembali bertaubat. Ibnu Basyar, misalnya, menyebutkan dalam buku sejarah Nejed, bahwa pada tahun 1204 H terjadi bencana dingin yang luar biasa di wilayah Huraimala yang tidak hanya merenggut ribuan nyawa manusia, tetapi juga memusnahkan binatang ternak, unggas, serta menghancurkan perkebunan dan hutan-hutan.
Sebelum itu, di tahun 1187 H, penyakit tha’un yang sangat hebat melanda penduduk Kufah, Bashrah dan sekitarnya. Penyakit itu tidak menyisakan penduduk Bashrah kecuali hanya sedikit. Mereka yang tersisa memperkirakan lebih dari 350 ribu jiwa meninggal karena penyakit itu.
Datangnya bencana-bencana seperti itu, bagi orang yang beriman kepada Allah, tentu diyakini sebagai akibat dari kealpaan dan kelalaian manusia, bukan karena faktor alam semata. Oleh karena itu, apa yang menimpa bangsa ini dari sederetan peristiwa ; gempa, tsunami, letusan gunung, tanah longsor, banjir, badai, lumpur, amukan ombak, dan kebakaran yang memamerkan kematian massal, hendaknya diyakini sebagai sebuah peringatan kepada kita semua yang tersisa, yang menjadi “penonton” dari kejauhan atau yang terselamatkan dari peristiwa dahsyat itu, agar dapat menjadi pemantik untuk kembalinya kesadaran kita yang hilang.
Rasanya, baru saja bangsa ini mencoba menatap masa depan yang lebih baik, berharap ada sinar cerah di tahun yang baru, namun kembali kita harus diguncang oleh bencana demi bencana. Tiba-tiba saja ada anak-anak kecil yang harus menjadi yatim, ibu-ibu menjadi janda, orang tua kehilangan anak, rencana pernikahan yang terpaksa batal, semua karena kematian massal yang kembali melanda.
Cukuplah ayat-ayat di atas, menjadi peringatan kepada kita semua, agar kita pandai menghargai hidup serta mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa kematian; yang karena sebab sepele atau karena tragedi yang dahsyat.@Ikuti pula tulisan lain di sini
Sumber : Tarbawi..Edisi 148/1 Pebruari 2007

Memulihkan Kesehatan Dengan Sedekah

Bismillah…

Dalam hidup ini banyak hal yang menurut logika kita sebagai manusia nampak seperti mustahil atau tidak mungkin terjadi. Tidak sedikit kita menyaksikan atau mengetahui, bahwa ada suatu penyakit atau sebut saja luka yang sudah sekian lama diderita oleh sesorang dan sudah sekian banyak pula macam obat yang digunakan untuk mengobatinya namun tidak kunjung sembuh. Tetapi setelah bertanya dan berkonsultasi kesana kemari pada orang-orang yang mengerti ilmu agama, dan menyarankan agar ia perlu bersedekah kemudian ia melaksanakan saran tersebut, maka penyakit luka tersebut akhirnya sembuh dan bahkan kesehatan orang tersebut secara ruhani dan jasmani menjadi jauh lebih baik dan segar dari sebelumnya.

             Fenomena seperti ini nampaknya hanya bisa kita pahami dengan kacamata iman yang murni dan kuat kepada Zat Yang Maha Pencipta, yaitu Allah Swt. Karena iman itu sendiri adalah sebuah energi hidup yang memiliki daya atau kekuatan dahsyat menyemangati kita dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Dan, sedekah itu sendiri merupakan implementasi dari semangat yang digelorakan oleh kekuatan iman yang murni dan kuat hanya kepada Allah Swt.

             Terkait dengan fenomena di atas, ada sebuah kisah di jaman Rasulullah Saw bahwa seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarrak, memberitahukan bahwa,” sudah tujuh tahun lamanya ia menderita luka di lututnya tidak sembuh-sembuh, meski ia sudah mengobatinya dengan berbagai macam obat oleh tabib yang ahli, namun tidak sembuh juga.” Lalu Abdullah bin Mubarrak menyarankan, “Agar ia menggali sumur di tempat orang-orang yang kekurangan air. Saya berharap kepada Allah semoga ketika air memancar dari sumur, maka darah di lutut anda akan segera berhenti mengalir.” Dan, setelah anjuran itu dilaksanakan yaitu bersedekah dengan air, maka kemudian luka itu pun segera sembuh.

             Kisah yang lain, Abu Abdullah Hakim ra adalah seorang ahli hadits yang terkenal. Ia sudah menderita luka di wajahnya selama satu tahun tidak sembuh-sembuh meski sudah diobati. Pada suatu hari Jum’at ia mendatangi Ustadz Abu Utsman Shabuni, untuk meminta didoakan. Dan Abu Utsman pun mendoakan dengan doa yang panjang sekali dan diamini oleh semua yang hadir di majlis. Kemudian, pada hari Jum’at berikutnya salah seorang wanita anggota majlis, datang memberitahukan bahwa sepulang dari mesjid hari Jum’at kemarin, ia mendoakan dengan sungguh-sunguh untuk kesembuhan Hakim. Pada malam harinya ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw. Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah saw bersabda :…Suruhlah Hakim agar memberikan kemudahan air bagi kaum muslimin…Begitu mendengar berita itu, Abu Abdullah Hakim segera membuat tangki di depan rumahnya yang selalu dipenuhi air dan es batu. Al hasil, setelah berlalu satu minggu, luka diwajahnya berangsur-angsur dan segera membaik, bahkan keadaannya menjadi lebih tanpan dari sebelumnya.

            Al Faqih Abu Laits As Samarqandi berkata, “Rajinlah bersedekah sedikit atau banyak, karena sesungguhnya dalam sedekah itu ada sepuluh hal yang terpuji. Lima berlaku di dunia dan lima lagi berlaku di akhirat. Dan lima yang berlaku di dunia adalah :1). Sedekah bisa mensucikan harta, seperti dalam sabda Nabi Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya jual beli itu tidak terlepas dari main-main, bersumpah, dan berbohong. Karena itu, bersihkanlah ia dengan sedekah.” 2). Sedekah bisa membersihkan badan dari dosa sebagaimana firman Allah Swt, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (harta benda).” 3). Sedekah dapat menolak bala atau musibah danberbagai macam penyakit, seperti sabda Rasulullah Saw, “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah.” 4). Sedekah bisa memberikan kegembiraan bagi orangt-orang miskin. Dan, itulah bentuk amal yang mulia dan yang paling utama. 5). Sedekah bisa mendatangkan berkah pada harta yang kita miliki dan melapangkan rezki, yang difirmankan Allah Swt, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”

           Kemudian lima yang akan berlaku di akhirat kelak adalah sebagai berikut : 1). Sedekah kelak akan menjadi tempat berteduh dari panas yang sangat membara bagi orang-orang yang mengelaurkannya. 2). Sedekah dapat meringankan proses hisab atau perhitungan amal. 3). Sedekah dapat menambah bobot pada amal kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia. 4). Sedekah dapat menolong kita dalam melewati jembatan neraka yang bergitu menakutkan. 5). Sedekah dapat meningkatkan derajat surga.

           Jadi, jika keutamaan atau manfaat sedekah itu sedemikian besarnya bagi kita sebenarnya karena ia mendapatkan doa restu dari orang-orang yang fakir dan miskin yang bisa kita bayangkan betapa berbahagia dan senangnya mereka ketika mendapatkan sedekah dari sesamanya yang berkecukupan. Karena mereka setiap saat bergulat dengan berbagai persoalan apa yang harus dimakan di waktu pagi, siang dan sore. Sementara masih ada di sekitar mereka orang-orang yang berkecukupan dan bahkan berkelebihan. Subhaanallah…karena itu marilah kita segera bersedekah untuk mereka dengan apa saja yang bisa kita sedekahkan. Sedikit atau banyak tidak menjadi masalah karena tentu sangat bergantung pada kemampuan yang kita miliki, asalkan diberikan dengan keikhlasan hati pasti akan dicatat oleh Allah Swt sebagai amal kebaikan yang menolong kita di akhirat kelak, aamiin. Wallaahu a’lam.

Menjadi Manusia Akhirat

Bismillah…

“Menjadi Manusia Akhirat”, adalah sebuah judul artikel yang saya salin dari Majalah Tarbawi edisi 111 tgl 23 Juni 2005 dan saya pindahkan sebagai postingan di blog sederhana saya “Butir-Butir Mutiara”. Tulisan ini sangat menggugah dan semoga pembaca mendapatkan pelajaran dan hikmah dari kisah yang dibahas di dalamnya, aamiin. Selengkapnya ikutilah urain berikut ini.

Ketika berdoa,” kata Umar ra, “Aku tidak memiliki obsesi agar doa itu terkabul. Obsesiku hanyalah pada ucapan doa itu sendiri. Karena apabila terinspirasi untuk berdoa, pengabulan doa itu pasti akan datang beriringan tatkala doa itu diucapkan.”

Sungguh dalam makna perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu anh. Sebab memang tidak semua doa akan terkabul. Misalkan ada orang yang berdoa meminta ditimpakannya sesuatu yang tidak disukai kepada seseorang, dengan alasan apapun, maka doa ini pasti tertolak. Doa seperti ini adalah efek dari kebencian dan permusuhan terhadap seseorang.

Tapi doa adalah sulbi ibadah. Doa juga merupakan puncak keimanan dan menjadi rahasia di balik munajat yang disampaikan seorang hamba kepada Tuhannya. Jika seuntai doa terpancar dari hati seorang hamba yang sadar terhadap Tuhannya, mencintai apa yang dicintaiNya, maka doa itu pasti mendapat tempat di arasy Allah swt.

Saudaraku,Suatu ketika, Umar bin Khattab duduk kelelahan di atas tumpukan tanah dan kerikil, usai berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Peluh keringat masih jelas tampak di wajahnya. Ia terduduk dan berkata,”Ya Allah, usiaku semakin udzur, tubuhku sudah semakin ringkih karena tua dan rakyatku kini semakin banyak. Kembalikanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak menyia-nyiakan mereka dan dalam kondisi tidak termakan oleh fitnah. Tetapkalah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu..”

Saudaraku, Perhatikanlah bait-bait doa yang dipinta Umar itu. Tidak panjang yang dipinta Umar ketika itu. Tapi adakah Umar meminta sesuatu urusan dunia di dalam doanya? Adakah obsesi dan keinginan duniawi masuk dalam doa Umar kepada Allah? Apa yang diharapkan oleh Umar ra dalam doa-doanya? Umar hanya menyampaikan kepada Allah bahwa tubuhnya sudah renta dan usianya yang sudah uzur. Sementara di sisi lain, ia makin menyadari bahwa kewajiban yang harus ditunaikannya semakin banyak. Umar menumpahkan perasaan hatinya itu kepada Allah swt. Umar meminta perlindungan Allah dari badai fitnah yang mungkin menimpanya dalam situasi seperti ini. Lalu, Umar ra memohon agar kematiannya adalah syahid di jalan Allah dan tempat wafatnya adalah kota Madinah Al Munawwarah.

Indah sekali tujuan yang diinginkan Umar dalam doanya. Mulia sekali perasaan yang tercurah dalam doa-doa Umar. Damai sekali kandungan makna cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah saw, hingga ia memohon agar jenazahnya berada tidak jauh dari jenazah Rasulullah saw yang mulia.

Saudaraku, inilah obsesi yang mulia yang dimiliki Umar. Ia memang tidak pernah sedikitpun bergantung pada urusan harta dan dunia dalam hidupnya setelah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Kehidupan Umar sangat sederhana, dan selalu lebih mementingkan orang lain dalam soal dunia. Dialah khalifah yang begitunhati-hati menjaga harta kaum Muslimin hingga ia mengatakan, “Posisiku terhadap harta baitul maal tidak lebih dari orang yang menjaga harta anak yatim.”

Saudaraku, bait-bait doa yang diucapkan Umar itu naik ke langit. Penggalan-penggalan permohonan yang muncul dari hati seorang shalih yang selalu berkeliling untuk memperhatikan orang lain, membagikan cintanya kepada banyak orang itu, diterima oleh Allah swt.  Seluruh pintanya terkabul. Ia sungguh-sungguh mati syahid karena tikaman seorang fasik di dalam masjid. Darahnya mengucur membasahi tanah Rasulullah saw.

Saudaraku, berbahagia dan bersyukurlah dengan keadaan ini. Perhatikanlah bagaimana dalamnya makna ucapan Umar ketika ia terilhami untuk berdoa dan pengabulan doa itu selalu beriringan dengan doa-doa yang diucapkan Umar ketika itu.

Saudaraku,

Maka, tanamkanlah obsesi akhirat di sini, di dalam hati dan dada kita. Bersihkan sedikit demi sedikit, dominasi dunia yang sudah lama menjadi raja dalam hati kita. Letakkanlah pandanga akhirat di sini, di dalam kelopak mata kita. Hamparkanlah perjalanan menuju akhirat di sini, di hadapan setiap kaki kita melangkah. Mari, menjadi manusia-manusia akhirat. Bukan manusia-manusia dunia. Karena seperti seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah, ” Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan aka datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudia tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu… “Mari hidup hanya untuk Allah saudaraku….Hanya untuk Allah..@

Sumber : Tarbawi-Edisi 111 23 Juni 2005

Hari Berbangkit Dan Padang Mahsyar

Pada satu masa nanti, yang kita kenal dengan hari berbangkit, yaitu ketika sangkakala pertama ditiup dan matinya semua mahluk, maka mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts atau hari berbangkit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz-dzanab, darinya makhluk itu disusun kembali pada hari kiama.” (HR.Muslim IV/2270-2271).

Ketika Ajbudz-dzanab sudah tumbuh dan jasad-jasad sudah utuh kembali seperti semula, maka ditiuplah sangkakala yang kedua. Lalu kembalilah semua ruh ke dalam jasadnya masing-masing. Allah berfirman : “Apabila ruh-ruh dipertemukan (kembali dengan tubuh).” (QS At-Takwir : 7)

Pertama kali Allah berfirman :  “…sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS Al-Anbiya: 104).Demikianlah jika Allah telah berjanji, maka pasti Dia menepatinya. Dan Allah berfirman : “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari dalam kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang maha Pemurah dan benarlah rasul-rasulNya.” (QS Yasin : 51-52).

“(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).” (QS Qaaf:42)

(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS Al-Muthaffifin: 6)

Sesudah kebangkitan ini manusia digiring ke padang mahsyar (tempat berkumpul), Allah berfirman :

(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.” (QS Al-Qaaf:44)

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS Al-Kahfi:47)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”(QS Yunus:45)

Saat tiba hari kiamat, umat manusia panik, nampak seperti orang-orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk. Mereka berhamburan bagai anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung hancur bagai bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian manusia mati semua.

Manusia dibangkitkan dengan berusia 33 tahun (sebagaimana dalam riwayat Muslim), dan hamba Allah yang pertama kali bangkit dan keluar dari kuburnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim).

Kemudian manusia digiring ke padang mahsyar, mereka dihimpun di bumi yang baru berwarna putih kemerah-merahan, bagaikan tepung roti yang dibakar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ

كَقُرْصَةِ نَقِىٍّ » . قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ : لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لأَحَدٍ .

Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih kemerah-merahan seperti tepung roti yang bersih”, Sahl atau yang lainnya berkata, “Tidak ada tanda (bangunan atau gedung) milik siapa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka dihimpun dalam kondisi telanjang, belum dikhitan, dan tanpa mengenakan alas kaki. Mereka digiring menuju mahsyar berkelompok, ada yang berkendaraan, ada yang berjalan kaki dan ada yang berjalan telungkup di atas wajahnya.

Anas bin Malik berkata: “Ada seorang yang berkata, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana orang kafir dihimpun dalam kondisi telungkup di atas wajahnya? Beliau menjawab, “Bukankah Dzat yang mampu membuatnya berjalan dengan kedua kaki di dunia mampu membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?!” (HR. Bukhari)

Suasana di Padang Mahsyar

Manusia semua berdiri di hadapan Allah selama setengah hari, yang kadarnya satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ (المطففين 6) مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَ

Pada hari manusia bangkit menghadap Allah Rabbul ‘alamin (Al Muthaffifin: 6), selama setengah hari (dari satu hari yang kadarnya) lima puluh ribu tahun. Maka diringankan bagi orang mukmin (sehingga lamanya) seperti matahari menjelang terbenam sampai terbenam.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahut Targhib wat Tarhib no. 3589)

Di tempat itu, manusia merasakan kesengsaraan yang amat berat, bagaimana tidak? Pada saat itu, matahari didekatkan satu mil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ . فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا » .

Matahari akan didekatkan dengan makhluk pada hari kiamat sehingga jaraknya satu mil. Ketika itu, manusia berkeringat sesuai dengan amalnya. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai ke mata kaki, ada pula yang sampai ke kedua lutut, ada yang sampai ke pinggangnya dan ada yang tenggelam oleh keringatnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya ke mulutnya.

(HR. Muslim)

Di tengah suasana yang panas itu, ada sekelompok manusia yang beruntung dan berbahagia karena mendapat naungan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang ‘adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang cinta karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya, seorang yang diajak mesum oleh wanita yang berkududukan dan cantik lalu ia mengatakan “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya dan seorang yang mengingat Allah di tempat yang sepi, lalu kedua matanya berlinangan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada pula amalan lain yang dapat mendatangkan bantuan dan naungan Allah, yaitu: sedekah, membaca surat Al Baqarah dan Ali Imran, serta memudahkan orang yang kesulitan (lihat dalil-dalilnya dalam buku “Rintangan Setelah Kematian”).

Di padang mahsyar, Allah menghardik dan mencela orang-orang kafir di hadapan seluruh makhluk, karena tindakan mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala dan mengkultuskan orang shalih serta fanatik terhadap sesembahan nenek moyang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al An’am: 94)

Dari ayat-ayat tersebut menjadi jelaslah bagi kita akan petunjuk Allah, bahwa pengumpulan manusia (hasyr) adalah salah satu kenyataan akhirat, yaitu Allah Yang Maha Pencipta mengumpulkan mereka menuju padang mahsyar dari tempat kebangkitan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda-beda.

Di sanalah semua makhluk akan berdiri lama sekali menunggu putusan pengadilan Allah. Sementara keadaan mereka bermacam-macam berdasarkan amal perbuatan mereka di dunia. Maka ditampakkanlah semua amal-amal manusia dan tidak akan pernah disembunyikan oleh siapapun dan dari siapapun. Di tambah lagi dengan ketakutan dan kengerian di tempat mereka berdiri. Maka nampaklah mereka berusaha untuk mencari seseorang yang dapat memberi syafa’at untuk mereka kepada Allah agar segera memutuskan hukuman di antara mereka. Maka mereka memohon kepada bapak mereka Adam as lalu beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Nuh as, dan Nuh pun menyuruh mereka pergi kepada Ibrahim as, lalu Ibrahim menyuruh mereka mendatangi Musa as, semuanya beralasan bahwa Allah pada hari itu murka, belum pernah murka seperti itu dan  nampaknya tidak akan murka sesudah itu, serta mereka beralasan pula dengan kesalahan yang pernah terjadi pada diri mereka. Lalu Musa as menyuruh mereka mendatangi ‘Isa as dan beliau beralasan bahwa Allah sedang murka, tidak pernah murka seperti itu, dan tidak akan murka lagi nampaknya, kemudian beliau menyuruh mereka mendatangi  Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam, maka beliaupun memberi syafa’atnya. Kemudian Allah mengijinkan pelaksanaan qadha’ (putusan hukuman) bagi segenap mahluk.

Demikian inilah sekilas tentang keadaan kita setelah dihidupkan kembali oleh Allah subhanahu wata’ala di hari berbangkit atau yaumul ba’ts. Setelah kita keluar dari kubur kita masing-masing kita akan digiring ke padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di dunia, dan di sinilah akan ditentukan nasib kita apakah ke surga atau kah ke neraka. Wallahu A’lam.

Sumber : Dihimpun dari beberapa referensi terkait

Beberapa Kejadian Pada Hari Kiamat (1)

Ada beberapa peristiwa dan dalil-dalil tentang keadaan yang terjadi pada hari kiamat sebelum masuk surga atau neraka, yaitu sebagai berikut :

Kejadian Pertama : ARDH DAN HISAB

Yang dimaksud dengan Ardh (penyodoran) dan Hisab (perhitungan) ini adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepada manusia apa saja yang telah dilakukannya di dunia, dan dimaksudkan pula agar manusia mau dan pasti mau mengakui perbuatannya selama hidup di dunia. Seperti halnya Allah akan meng-qishash sebagian makhluk untuk sebagiannya dan memutuskan hukuman di antara mereka. Dan tentu yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Ada banyak dalil-dalil di dalam Al Qur’an mengenai hal ini, di antaranya Allah berfirman :

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” (QS Al-A’raf:6)

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS Al-Kahfi:47)

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚلَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚإِنَّ الَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakanya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.”( QS.Ghafir:17)

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (QS Al-Ghasyiyah:25-26).

Dalam hal ini Allah subhanahu wata’ala sendirilah yang mengurus hisab para makhlukNya, berdasarkan hadits Al Bukhari dan Muslim dari Ady Ibnu Hitam, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

Tidak seorangpun di antara kalian melainkan Allah akan mengajaknya bicara, tidak ada di antara Allah dan dia penerjemah. Maka dia melihat ke sebelah kanannya, ternyata dia tidak melihat kecuali apa yang telah dia persembahkan dari amalnya (yang baik), dan melihat sebelah kirinya maka iapun tidak melihat kecuali apa yang telah ia kerjakan, dan dia melihat di hadapannya maka dia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Karena itu, takutlah neraka sekalipun dengan (bersedekah) separuh kurma.” (HR.Al Bukhari IX/181, Muslim II/703-04).

Kemudian didatangkanlah kitab-kitab yang telah dicatat oleh para malaikat yang mengawasi bani Adam agar setiap orang membaca isinya dan supaya masing-masing berdiri memperhatikan amalnya, sebagaimana diceritakan Allah subhanahu wata’ala dalam firmanNya:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya ; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhan tidak menganiaya seorang juapun.” (QS Al-Kahfi: 49).

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيب4

Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu’.  ” (QS Al-Isra: 13-14)

Setiap orang mengetahui keadaannya sebagaimana manusia mengetahui hal itu ketika pembagian kitab (catatan amal). Maka barangsiapa yang kitabnya diberikan dengan tangan kanan, maka dia termasuk orang yang beruntung dan hisabnya mudah serta dimudahkan. Dan barang siapa yang kitabnya diberikan dengan tangan kirinya dari belakang punggungnya maka hisabnya sulit dan barangsiapa dipersulit hisabnya maka ia binasa. Berdasarkan hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra bahwa ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tidaklah ada orang yang dihisab kecuali binasa (celaka)”. Aisyah berkata, Ya Rasulallah-semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusan.

*فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ*فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.” (QS, Al-Insyiqaq:7-8

“Beliau menjawab, ‘Itu adalah penyodoran amal, mereka diperlihatkan amalnya. Dan siapa yang dipersulit hisabnya maka ia binasa.” (HR.Al-Bukhari VI/208,lihat Muslim IV/2204-2205)

Di antara karunia Allah dan kasih sayang-Nya kepada orang-orang mukmin, Dia tidak mempersulit hisab atas amal-amal mereka melainkan hanya memperlihatkan amal kepada mereka serta meminta kepada mereka untuk mengakuinya. Termasuk di dalamnya sesuatu yang Allah sembunyikan atas mereka di dunia, begitu pula pada mauqif (mahsyar) ini tidak seorangpun yang mengetahuinya. Allah berkata kepada orang-orang mukmin, ‘Aku telah menutupi hal itu di dunia dan hari ini Aku mengampuninya’.”

*فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا *يَرَهُوَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS.Az-Zalzalah:7-8)

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS.Al-Mujadilah:6)

Maka setiap orang akan melihat amalnya, tidak ada alasan untuk mengingkarinya, karena bumi akan bersaksi dan anggota badanpun akan berbicara. Allah berfirman:

اِذَا زُلۡزِلَتِ الۡاَرۡضُ زِلۡزَالَهَا ۙ‏ *وَاَخۡرَجَتِ الۡاَرۡضُ اَثۡقَالَهَا ۙ* وَقَالَ الۡاِنۡسَانُ مَا لَهَا ۚ*يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?Pada hari ini bumi menceritakan beritanya.” (QS.Al-Zalzalah:1-4)

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka  dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulul mereka usahakan.” (QS.Yasiin:65)

Jadi, yang dihisab adalah amal perbuatan kita sewaktu di dunia yang dicatat seluruhnya oleh para malaikat penatat amal dalam sebuah kitab. Tidak ada yang bisa disangkal sedikitpun oleh manusia catatan dalam kitab ini, melainkan hanyalah menerimanya dan mengakuinya dengan rasa senang atau sedih bergantung pada apa yang telah kita perbuat di dunia. Wallahu A’lam.

Sumber : Dihimpun dari beberapa referensi terkait