Bismillah…

“Menjadi Manusia Akhirat”, adalah sebuah judul artikel yang saya salin dari Majalah Tarbawi edisi 111 tgl 23 Juni 2005 dan saya pindahkan sebagai postingan di blog sederhana saya “Butir-Butir Mutiara”. Tulisan ini sangat menggugah dan semoga pembaca mendapatkan pelajaran dan hikmah dari kisah yang dibahas di dalamnya, aamiin. Selengkapnya ikutilah urain berikut ini.

Ketika berdoa,” kata Umar ra, “Aku tidak memiliki obsesi agar doa itu terkabul. Obsesiku hanyalah pada ucapan doa itu sendiri. Karena apabila terinspirasi untuk berdoa, pengabulan doa itu pasti akan datang beriringan tatkala doa itu diucapkan.”

Sungguh dalam makna perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu anh. Sebab memang tidak semua doa akan terkabul. Misalkan ada orang yang berdoa meminta ditimpakannya sesuatu yang tidak disukai kepada seseorang, dengan alasan apapun, maka doa ini pasti tertolak. Doa seperti ini adalah efek dari kebencian dan permusuhan terhadap seseorang.

Tapi doa adalah sulbi ibadah. Doa juga merupakan puncak keimanan dan menjadi rahasia di balik munajat yang disampaikan seorang hamba kepada Tuhannya. Jika seuntai doa terpancar dari hati seorang hamba yang sadar terhadap Tuhannya, mencintai apa yang dicintaiNya, maka doa itu pasti mendapat tempat di arasy Allah swt.

Saudaraku,Suatu ketika, Umar bin Khattab duduk kelelahan di atas tumpukan tanah dan kerikil, usai berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Peluh keringat masih jelas tampak di wajahnya. Ia terduduk dan berkata,”Ya Allah, usiaku semakin udzur, tubuhku sudah semakin ringkih karena tua dan rakyatku kini semakin banyak. Kembalikanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak menyia-nyiakan mereka dan dalam kondisi tidak termakan oleh fitnah. Tetapkalah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu..”

Saudaraku, Perhatikanlah bait-bait doa yang dipinta Umar itu. Tidak panjang yang dipinta Umar ketika itu. Tapi adakah Umar meminta sesuatu urusan dunia di dalam doanya? Adakah obsesi dan keinginan duniawi masuk dalam doa Umar kepada Allah? Apa yang diharapkan oleh Umar ra dalam doa-doanya? Umar hanya menyampaikan kepada Allah bahwa tubuhnya sudah renta dan usianya yang sudah uzur. Sementara di sisi lain, ia makin menyadari bahwa kewajiban yang harus ditunaikannya semakin banyak. Umar menumpahkan perasaan hatinya itu kepada Allah swt. Umar meminta perlindungan Allah dari badai fitnah yang mungkin menimpanya dalam situasi seperti ini. Lalu, Umar ra memohon agar kematiannya adalah syahid di jalan Allah dan tempat wafatnya adalah kota Madinah Al Munawwarah.

Indah sekali tujuan yang diinginkan Umar dalam doanya. Mulia sekali perasaan yang tercurah dalam doa-doa Umar. Damai sekali kandungan makna cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah saw, hingga ia memohon agar jenazahnya berada tidak jauh dari jenazah Rasulullah saw yang mulia.

Saudaraku, inilah obsesi yang mulia yang dimiliki Umar. Ia memang tidak pernah sedikitpun bergantung pada urusan harta dan dunia dalam hidupnya setelah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Kehidupan Umar sangat sederhana, dan selalu lebih mementingkan orang lain dalam soal dunia. Dialah khalifah yang begitunhati-hati menjaga harta kaum Muslimin hingga ia mengatakan, “Posisiku terhadap harta baitul maal tidak lebih dari orang yang menjaga harta anak yatim.”

Saudaraku, bait-bait doa yang diucapkan Umar itu naik ke langit. Penggalan-penggalan permohonan yang muncul dari hati seorang shalih yang selalu berkeliling untuk memperhatikan orang lain, membagikan cintanya kepada banyak orang itu, diterima oleh Allah swt.  Seluruh pintanya terkabul. Ia sungguh-sungguh mati syahid karena tikaman seorang fasik di dalam masjid. Darahnya mengucur membasahi tanah Rasulullah saw.

Saudaraku, berbahagia dan bersyukurlah dengan keadaan ini. Perhatikanlah bagaimana dalamnya makna ucapan Umar ketika ia terilhami untuk berdoa dan pengabulan doa itu selalu beriringan dengan doa-doa yang diucapkan Umar ketika itu.

Saudaraku,

Maka, tanamkanlah obsesi akhirat di sini, di dalam hati dan dada kita. Bersihkan sedikit demi sedikit, dominasi dunia yang sudah lama menjadi raja dalam hati kita. Letakkanlah pandanga akhirat di sini, di dalam kelopak mata kita. Hamparkanlah perjalanan menuju akhirat di sini, di hadapan setiap kaki kita melangkah. Mari, menjadi manusia-manusia akhirat. Bukan manusia-manusia dunia. Karena seperti seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah, ” Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan aka datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudia tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu… “Mari hidup hanya untuk Allah saudaraku….Hanya untuk Allah..@

Sumber : Tarbawi-Edisi 111 23 Juni 2005

Advertisements