Zikir Pagi Dan Petang Dan Keutamaannya

Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)

Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.

Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaannya dan penjelasan tentang keutamaannya adalah sebagai berikut:

  1. Membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. Dari Anas yang dia memarfu’kannya (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan/memerdekakan empat orang dari keturunan Nabi Isma’il (bangsa ‘Arab). Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat ‘ashar sampai terbenamnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan empat orang (budak).” (HR. Abu Dawud no.3667 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih Abu Dawud 2/698)

  1. Membaca ayat kursi (Al-Baqarah:255)

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. “Barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin).” (HR. Al-Hakim 1/562 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

  1. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas.

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membacanya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidziy 5/567, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/182)

  1. Membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Jika sore hari membaca:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ … رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا …

Dibaca sekali. (HR. Muslim 4/2088 no.2723 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Jika sore hari membaca:

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Dibaca sekali. (HR. At-Tirmidziy 5/466, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya dalam keadaan yakin dengannya ketika sore hari lalu meninggal di malam harinya, niscaya dia akan masuk surga. Dan demikian juga apabila di pagi hari.”(HR. Al-Bukhariy 7/150)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.22 dan Ibnus Sunniy no.69, serta Al-Bukhariy di dalam Al-Adabul Mufrad dan dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz di dalam Tuhfatul Akhyaar hal.26)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ، وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidziy, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/142)

  1. Membaca:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore, tidak akan membahayakannya sesuatu apapun.” (HR. Abu Dawud 4/323, At-Tirmidziy 5/465, Ibnu Majah dan Ahmad, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332)

  1. Membaca:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka ada hak atas Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.”

Boleh juga membaca:

… وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً

(HR. Ahmad 4/337, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.4 dan Ibnus Sunniy no.68, Abu Dawud 4/418, At-Tirmidziy 5/465 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz di dalam Tuhfatul Akhyaar hal.39)

  1. Membaca:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Dibaca sekali ketika pagi dan sore. (HR. Al-Hakim dan beliau menshahihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabiy 1/545, lihat Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

  1. Membaca:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Jika sore hari membaca:

أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ …

Dibaca sekali. (HR. Ahmad 3/406, 407, Ibnus Sunniy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.34, lihat Shahiihul Jaami’ 4/209)

  1. Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Dibaca 100x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membacanya seratus kali ketika pagi dan sore maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat yang lebih utama daripada apa yang dia bawa kecuali seseorang yang membaca seperti apa yang dia baca atau yang lebih banyak lagi.” (HR. Muslim 4/2071)

  1. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dibaca 10x. (HR. An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.24, lihat Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/272)

Atau dibaca sekali ketika malas/sedang tidak bersemangat. (HR. Abu Dawud 4/319, Ibnu Majah, Ahmad 4/60, lihat Shahih Abu Dawud 3/957 dan Shahih Ibnu Majah 2/331)

  1. Membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dibaca 100x ketika pagi. “Barangsiapa yang membacanya seratus kali dalam sehari maka (pahalanya) seperti membebaskan sepuluh budak, ditulis untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan dia akan mendapat perlindungan dari (godaan) syaithan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada apa yang dia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhariy 4/95 dan Muslim 4/2071)

  1. Membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dibaca 3x ketika pagi. (HR. Muslim 4/2090)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Dibaca sekali ketika pagi. (HR. Ibnus Sunniy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.54, Ibnu Majah no.925 dan dihasankan sanadnya oleh ‘Abdul Qadir dan Syu’aib Al-Arna`uth di dalam tahqiq Zaadul Ma’aad 2/375)

  1. Membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Dibaca 100x dalam sehari. (HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baari 11/101 dan Muslim 4/2075)

  1. Membaca:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Dibaca 3x ketika sore. “Barangsiapa yang mengucapkannya ketika sore tiga kali maka tidak akan membahayakannya panasnya malam itu.” (HR. Ahmad 2/290, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/187 dan Shahih Ibnu Majah 2/266)

  1. Membaca:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Dibaca 10x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku ketika pagi sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabraniy dengan dua sanad, salah satu sanadnya jayyid, lihat Majma’uz Zawaa`id 10/120 dan Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)

Inilah di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan dibaca ketika pagi dan sore. Ada juga bacaan yang lainnya akan tetapi kebanyakan sanadnya dha’if sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dan Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy. Walaupun tidak menutup kemungkinan sebagiannya ada yang shahih.

Lafazh-lafazh dzikir ini belum diterjemahkan mengingat terbatasnya tempat. Bagi yang ingin melihat terjemahan dan keterangannya bisa dilihat dalam “Perisai Seorang Muslim: Doa dan Dzikir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah“.

Keutamaan Shalat Isyraaq

Dengan membaca dzikir-dzikir tersebut kita bisa mengamalkan sunnah yang lainnya yaitu shalat isyraaq (shalat ketika telah terbitnya matahari sekitar 15-20 menit). Hal ini dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِيْ جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidziy no.591 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy no.480, Al-Misykat no.971 dan Shahih At-Targhiib no.468, lihat juga Shahih Kitab Al-Adzkaar 1/213 karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy)

Betapa besarnya keutamaan amalan tersebut! Selayaknya bagi kita untuk melaksanakannya semaksimal mungkin. Jangan sampai terlewat pahala yang begitu besar ini. Jangan sampai waktu kita terbuang untuk ngobrol kesana kemari yang sifatnya mubah sehingga hilanglah kesempatan mendapatkan pahala yang besar ini. Konsentrasikanlah setelah shalat shubuh dengan dzikir. Dzikir setelah shalat subuh dilanjutkan dengan dzikir pagi sampai selesai. Kemudian membaca Al-Qur`an atau muraja’ah hafalan sampai terbit matahari sekitar 15-20 menit. Setelah itu kita shalat dua raka’at yang diistilahkan dengan shalat isyraaq (jangan shalat ketika tepat matahari terbit, karena hal ini dilarang di dalam syari’at).

Janganlah waktu ini disibukkkan dengan urusan lain yang kurang penting. Kecuali amalan lain yang mempunyai keutamaan yang besar seperti ta’lim atau urusan lainnya yang sifatnya sangat urgen dan mendesak. Mudahan-mudahan kita mendapatkan pahala yang besar ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tersebut. Aamiin. Wallaahu A’lam.

Maraaji’: Hishnul Muslim karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahih Kitab Al-Adzkar wa Dha’ifuhu, Syarh Riyadhush Shalihin bab Adz-Dzikr ‘indash Shabah wal Masa`, dan Al-Kalimuth Thayyib karya Ibnu Taimiyah.

Dikutip dari: http://fdawj.co.nr Penulis: Buletin Dakwah Al Wala’ Wal Bara’ , Judul: Keutamaan Dzikir Pagi & Sore

Baca Risalah terkait ini:
1.Istighfar yang Paling Utama
2.Kumpulan Dzikir dan Do’a (Hisnul Muslim 1) Perisai Seorang Muslim
3.Kumpulan Dzikir dan Do’a (Hisnul Muslim 2) Perisai Seorang Muslim
4.Rasulullah Berdzikir dengan Jari Kanannya, Tanpa Alat Tasbih
5.Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib
6.Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Tuntunan Rasulullah Serta Keutamaannya
7.Doa Senjata Orang Yang Beriman
8.KUMPULAN DZIKIR DAN DO’A

Iklan

Kematian Itu Datang Dengan Caranya Sendiri

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan oleh majalah Tarbawi edisi 148/ tanggal 1 Pebruari 2007, dan kini saya posting ulang di sini agar bisa dibaca oleh banyak orang, semoga semua tercerahkan. Ikuti teksnya berikut ini.
Yang diinginkan Al Ghazali ternyata hanya jawaban yang begitu singkat. Tetapi mendalam dan penuh makna. Sesuatu yang barangkali tidak sempat terlintas di benak mereka, sehingga sebagian mereka tampak terhenyak mendengar penjelasan Sang guru.
 Al Ghazali, sang tokoh sufi itu, telah berkata benar. Mati, atau kematian, atau ajal memang sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh akal manusia, tidak terduga dan idak pula bisa diraba oleh tangan, tapi ia begitu dekat dan pasti akan datang kepada siapa saja, kepada semua makhluk yang bernyawa. Tak ada yang terkecuali selain Allah, Dzat yang telah menciptakan kematian sebagai akhir dari kehidupan.
Begitu dekatnya kematian itu dengan kita, hampir setiap saat ia melintas di hadapan kita, menjemput dan menggilir orang-orang di sekitar kita, Entah mereka kerabat, tetangga, atau kenalan kita, atau juga saudara-saudara kita nun jauh di tempat lain, yang berita kematiannya selalu mengisi lembaran-lembaran media, cetak dan elektronik, karena bencana atau peperangan yang mengantarkan mereka kepada kematian.
Kematian itu datang dengan caranya sendiri, yang bermacam-macam, dengan sebuah targedi yang dahsyat atau dengan sesuatu yang sepele; tiba-tiba atau dengan perantaraan sakit yang parah. Tapi apapun sebabnya, sebutannya selalu sama; mati, dan hasilnya juga tidak pernah berbeda; memaksa hidup berhenti dan memutus segala kenikmatan yang ada.
Mati sesungguhnya adalah sebuah nasihat yang tak berbicara yang dikirim Allah swt. untuk kita, agar kita selalu ingat kepada-Nya, agar kita tidak hanyut oleh kemewahan dunia dan lupa berbekal untuk menghadapi kehidupan akhirat yang lebih panjang, dan agar tertanam rasa takut di hti kita akan kematian itu, jika ia datang menjemput sementara kita masih bergelimang dosa dan maksiat. Dan inilah yang menyebabkan para pendahulu kita selalu berhadapan dengan kematian.
Mari kita simak dan belajar dari akhir kehidupan para salafushalih terdahulu, orang-orang yang terdepan dari umat ini, para pemimpin dan ulama kaum muslimin. Sungguh mereka dalam kesusahan dan begitu takut kalau menghadap Allah swt. dalam keadaan membawa dosa dan kemaksiatan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah saw tatkala menjelang wafat, disediakan untuk beliau sebuah wadah air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusapkan ke wajahnya seraya bersabda, “La laaha illallah, sesungguhnya di dalam kematian ada sakaratul maut.” Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya lalu mengatakan, “Fir Rafiqil A’la.” Kalimat yang diucapkan setiap nabi menjelang ajalnya, dan setelah itu beliaupun kembali menghadap Rabbnya dengan tangan yang terkulai lemas.
Umar bin khattab ra, sahabat yang terkenal keras dan tegas itu, ketika menjelang ajalnya berkata kepada puteranya Abdullah, “Letakkan pipiku di atas tanah!” Namun Abdullah enggan untuk melakukannya. Umarpun menegaskan permintaannya itu hingga tiga kali, “Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah melihatku dalam keadaan demikian, dan Dia lalu mengasihaniku.” Diriwayatkan bahwa Umar terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua matanya seraya mengatakan, “Celakalah Umar, celaka juga ibunya jika Allah tidak memaafkannya.”
Demikian pula Abu Hurairah ra, ketika sakitnya semakin keras ia menangis. Seorang sahabatnya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis bukan karena dunia ini, namun aku menangisi perjalanan setelah ini (dunia), bekalku yang sedikit, lalu aku akan menapaki tempat yang menanjak lagi amat luas, sementara aku tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga.”
Utsman bin Affan, Abu Darda’, Atha’ As Sulami, Muhammad Al Munkadir, Shufyan Ats Tsauri, dan para salafushalih lainnya yang amal kebaikannya mungkin tak pernah bisa kita tandingi, juga menangis di saat-saat akhir kehidupan mereka karena sangat khawatir kalau kebaikan mereka tak dapat menutupi kesalahan-kesalahan mereka di sisi Allah.
Karena itulah maka kita sesungguhnya patut merenungi nasihat Syafiq bin Ibrahim yang berkata, “Bersiap-siaplah kalian semua di dalam menghadapi kematian, jangan sampai ketika ia datang lalu kalian minta dikembalikan lagi ke dunia (karena belum beramal).”
Hari ini, kita menyaksikan dan bahkan mungkin merasakan dalam diri kita masing-masing, bahwa tragedi kematian yang saban hari kita jumpai, seperti tidak lagi menjadi sesuatu yang dapat memberi pengaruh besar untuk mengembalikan kesadaran kita dari kelalaian dan kealpaan, seperti pengaruhnya terhadap para pendahulu kita. Mereka, para salafushalih itu, di antara mereka bahkan ada yang berpura-pura mati dengan mengubur diri ketika godaan dunia mereka rasakan begitu kuat mempengaruhi jiwa mereka. Sementara kita, nasihat kematian terasa sudah tidak begitu kuat mempengaruhi jiwa spiritual kita. Kematian tetangga, teman sebaya, atau saudara kita seperti tidak membuat berpikir bahwa giliran kematian itu semakin dekat dengan kita.
Hilangnya pengaruh itu mungkin disebabkan oleh kecintaan kita kepada dunia yang sudah berlebihan, sehingga rasa takut kita berubah menjadi kebencian, seperti yang pernah diingatkan oleh Rasulullah saw. Atau mungkin pula karena hati kita sudah tertutup oleh karat-karat dosa, sehingga peringatan sedahsyat apapun sudah tidak memberi bekas lagi. Atau mungkin juga karena kita sudah terlalu sering bertemu degan kematian, sehingga ia menjadi sesuatu yang biasa. Kematian personal yang     kita saksikan sudah tidak memberi hentakan pada hati dan perasaan kita.  Karena itu, maka Allah tidak pernah berhenti mengirimkan kepada kita bencana-bencana yang dahsyat untuk membangunkan kita dari buaian maksiat dan dosa.
Memang, pengaruh kematian personal tidak sekuat pengaruh kematian massal. Banyak orang yang baru tersadar setelah melihat manusia-manusia di sekitarnya terceracut nyawanya seperti tercerabutnya rumput-rumput kecil dari akarnya. Karenanya, Allah swt selalu mnyentak kesadaran orang-orang yang sulit disadarkan dengan mengirimkan kematian yang massal. Sehingga mereka yang menyaksikan itu, ataupun orang yang terselamatkan darinya, mau mengambil pelajaran.
Sepanjang sejarah kehidupan manusia, dari umat-umat para nabi hingga kita saat ini, ada banyak peristiwa dahsyat yang sengaja Allah kirimkan kepada kaum-kaum yang melampaui batas agar mereka kembali ke jalan yang benar. Imam Ath Thabari, Ibnu Katsir, Al Yafi’i, dan Utsman bin Basyar dalam buku-buku sejarah yang mereka tulis menuturkan banyak kisah kematian massal yang ditimpakan kepada orang-orang yang lalai, agar mereka kembali bertaubat. Ibnu Basyar, misalnya, menyebutkan dalam buku sejarah Nejed, bahwa pada tahun 1204 H terjadi bencana dingin yang luar biasa di wilayah Huraimala yang tidak hanya merenggut ribuan nyawa manusia, tetapi juga memusnahkan binatang ternak, unggas, serta menghancurkan perkebunan dan hutan-hutan.
Sebelum itu, di tahun 1187 H, penyakit tha’un yang sangat hebat melanda penduduk Kufah, Bashrah dan sekitarnya. Penyakit itu tidak menyisakan penduduk Bashrah kecuali hanya sedikit. Mereka yang tersisa memperkirakan lebih dari 350 ribu jiwa meninggal karena penyakit itu.
Datangnya bencana-bencana seperti itu, bagi orang yang beriman kepada Allah, tentu diyakini sebagai akibat dari kealpaan dan kelalaian manusia, bukan karena faktor alam semata. Oleh karena itu, apa yang menimpa bangsa ini dari sederetan peristiwa ; gempa, tsunami, letusan gunung, tanah longsor, banjir, badai, lumpur, amukan ombak, dan kebakaran yang memamerkan kematian massal, hendaknya diyakini sebagai sebuah peringatan kepada kita semua yang tersisa, yang menjadi “penonton” dari kejauhan atau yang terselamatkan dari peristiwa dahsyat itu, agar dapat menjadi pemantik untuk kembalinya kesadaran kita yang hilang.
Rasanya, baru saja bangsa ini mencoba menatap masa depan yang lebih baik, berharap ada sinar cerah di tahun yang baru, namun kembali kita harus diguncang oleh bencana demi bencana. Tiba-tiba saja ada anak-anak kecil yang harus menjadi yatim, ibu-ibu menjadi janda, orang tua kehilangan anak, rencana pernikahan yang terpaksa batal, semua karena kematian massal yang kembali melanda.
Cukuplah ayat-ayat di atas, menjadi peringatan kepada kita semua, agar kita pandai menghargai hidup serta mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa kematian; yang karena sebab sepele atau karena tragedi yang dahsyat.@Ikuti pula tulisan lain di sini
Sumber : Tarbawi..Edisi 148/1 Pebruari 2007

Memulihkan Kesehatan Dengan Sedekah

Bismillah…

Dalam hidup ini banyak hal yang menurut logika kita sebagai manusia nampak seperti mustahil atau tidak mungkin terjadi. Tidak sedikit kita menyaksikan atau mengetahui, bahwa ada suatu penyakit atau sebut saja luka yang sudah sekian lama diderita oleh sesorang dan sudah sekian banyak pula macam obat yang digunakan untuk mengobatinya namun tidak kunjung sembuh. Tetapi setelah bertanya dan berkonsultasi kesana kemari pada orang-orang yang mengerti ilmu agama, dan menyarankan agar ia perlu bersedekah kemudian ia melaksanakan saran tersebut, maka penyakit luka tersebut akhirnya sembuh dan bahkan kesehatan orang tersebut secara ruhani dan jasmani menjadi jauh lebih baik dan segar dari sebelumnya.

             Fenomena seperti ini nampaknya hanya bisa kita pahami dengan kacamata iman yang murni dan kuat kepada Zat Yang Maha Pencipta, yaitu Allah Swt. Karena iman itu sendiri adalah sebuah energi hidup yang memiliki daya atau kekuatan dahsyat menyemangati kita dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Dan, sedekah itu sendiri merupakan implementasi dari semangat yang digelorakan oleh kekuatan iman yang murni dan kuat hanya kepada Allah Swt.

             Terkait dengan fenomena di atas, ada sebuah kisah di jaman Rasulullah Saw bahwa seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarrak, memberitahukan bahwa,” sudah tujuh tahun lamanya ia menderita luka di lututnya tidak sembuh-sembuh, meski ia sudah mengobatinya dengan berbagai macam obat oleh tabib yang ahli, namun tidak sembuh juga.” Lalu Abdullah bin Mubarrak menyarankan, “Agar ia menggali sumur di tempat orang-orang yang kekurangan air. Saya berharap kepada Allah semoga ketika air memancar dari sumur, maka darah di lutut anda akan segera berhenti mengalir.” Dan, setelah anjuran itu dilaksanakan yaitu bersedekah dengan air, maka kemudian luka itu pun segera sembuh.

             Kisah yang lain, Abu Abdullah Hakim ra adalah seorang ahli hadits yang terkenal. Ia sudah menderita luka di wajahnya selama satu tahun tidak sembuh-sembuh meski sudah diobati. Pada suatu hari Jum’at ia mendatangi Ustadz Abu Utsman Shabuni, untuk meminta didoakan. Dan Abu Utsman pun mendoakan dengan doa yang panjang sekali dan diamini oleh semua yang hadir di majlis. Kemudian, pada hari Jum’at berikutnya salah seorang wanita anggota majlis, datang memberitahukan bahwa sepulang dari mesjid hari Jum’at kemarin, ia mendoakan dengan sungguh-sunguh untuk kesembuhan Hakim. Pada malam harinya ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw. Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah saw bersabda :…Suruhlah Hakim agar memberikan kemudahan air bagi kaum muslimin…Begitu mendengar berita itu, Abu Abdullah Hakim segera membuat tangki di depan rumahnya yang selalu dipenuhi air dan es batu. Al hasil, setelah berlalu satu minggu, luka diwajahnya berangsur-angsur dan segera membaik, bahkan keadaannya menjadi lebih tanpan dari sebelumnya.

            Al Faqih Abu Laits As Samarqandi berkata, “Rajinlah bersedekah sedikit atau banyak, karena sesungguhnya dalam sedekah itu ada sepuluh hal yang terpuji. Lima berlaku di dunia dan lima lagi berlaku di akhirat. Dan lima yang berlaku di dunia adalah :1). Sedekah bisa mensucikan harta, seperti dalam sabda Nabi Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya jual beli itu tidak terlepas dari main-main, bersumpah, dan berbohong. Karena itu, bersihkanlah ia dengan sedekah.” 2). Sedekah bisa membersihkan badan dari dosa sebagaimana firman Allah Swt, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (harta benda).” 3). Sedekah dapat menolak bala atau musibah danberbagai macam penyakit, seperti sabda Rasulullah Saw, “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah.” 4). Sedekah bisa memberikan kegembiraan bagi orangt-orang miskin. Dan, itulah bentuk amal yang mulia dan yang paling utama. 5). Sedekah bisa mendatangkan berkah pada harta yang kita miliki dan melapangkan rezki, yang difirmankan Allah Swt, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”

           Kemudian lima yang akan berlaku di akhirat kelak adalah sebagai berikut : 1). Sedekah kelak akan menjadi tempat berteduh dari panas yang sangat membara bagi orang-orang yang mengelaurkannya. 2). Sedekah dapat meringankan proses hisab atau perhitungan amal. 3). Sedekah dapat menambah bobot pada amal kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia. 4). Sedekah dapat menolong kita dalam melewati jembatan neraka yang bergitu menakutkan. 5). Sedekah dapat meningkatkan derajat surga.

           Jadi, jika keutamaan atau manfaat sedekah itu sedemikian besarnya bagi kita sebenarnya karena ia mendapatkan doa restu dari orang-orang yang fakir dan miskin yang bisa kita bayangkan betapa berbahagia dan senangnya mereka ketika mendapatkan sedekah dari sesamanya yang berkecukupan. Karena mereka setiap saat bergulat dengan berbagai persoalan apa yang harus dimakan di waktu pagi, siang dan sore. Sementara masih ada di sekitar mereka orang-orang yang berkecukupan dan bahkan berkelebihan. Subhaanallah…karena itu marilah kita segera bersedekah untuk mereka dengan apa saja yang bisa kita sedekahkan. Sedikit atau banyak tidak menjadi masalah karena tentu sangat bergantung pada kemampuan yang kita miliki, asalkan diberikan dengan keikhlasan hati pasti akan dicatat oleh Allah Swt sebagai amal kebaikan yang menolong kita di akhirat kelak, aamiin. Wallaahu a’lam.

Menjadi Manusia Akhirat

Bismillah…

“Menjadi Manusia Akhirat”, adalah sebuah judul artikel yang saya salin dari Majalah Tarbawi edisi 111 tgl 23 Juni 2005 dan saya pindahkan sebagai postingan di blog sederhana saya “Butir-Butir Mutiara”. Tulisan ini sangat menggugah dan semoga pembaca mendapatkan pelajaran dan hikmah dari kisah yang dibahas di dalamnya, aamiin. Selengkapnya ikutilah urain berikut ini.

Ketika berdoa,” kata Umar ra, “Aku tidak memiliki obsesi agar doa itu terkabul. Obsesiku hanyalah pada ucapan doa itu sendiri. Karena apabila terinspirasi untuk berdoa, pengabulan doa itu pasti akan datang beriringan tatkala doa itu diucapkan.”

Sungguh dalam makna perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu anh. Sebab memang tidak semua doa akan terkabul. Misalkan ada orang yang berdoa meminta ditimpakannya sesuatu yang tidak disukai kepada seseorang, dengan alasan apapun, maka doa ini pasti tertolak. Doa seperti ini adalah efek dari kebencian dan permusuhan terhadap seseorang.

Tapi doa adalah sulbi ibadah. Doa juga merupakan puncak keimanan dan menjadi rahasia di balik munajat yang disampaikan seorang hamba kepada Tuhannya. Jika seuntai doa terpancar dari hati seorang hamba yang sadar terhadap Tuhannya, mencintai apa yang dicintaiNya, maka doa itu pasti mendapat tempat di arasy Allah swt.

Saudaraku,Suatu ketika, Umar bin Khattab duduk kelelahan di atas tumpukan tanah dan kerikil, usai berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Peluh keringat masih jelas tampak di wajahnya. Ia terduduk dan berkata,”Ya Allah, usiaku semakin udzur, tubuhku sudah semakin ringkih karena tua dan rakyatku kini semakin banyak. Kembalikanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak menyia-nyiakan mereka dan dalam kondisi tidak termakan oleh fitnah. Tetapkalah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu..”

Saudaraku, Perhatikanlah bait-bait doa yang dipinta Umar itu. Tidak panjang yang dipinta Umar ketika itu. Tapi adakah Umar meminta sesuatu urusan dunia di dalam doanya? Adakah obsesi dan keinginan duniawi masuk dalam doa Umar kepada Allah? Apa yang diharapkan oleh Umar ra dalam doa-doanya? Umar hanya menyampaikan kepada Allah bahwa tubuhnya sudah renta dan usianya yang sudah uzur. Sementara di sisi lain, ia makin menyadari bahwa kewajiban yang harus ditunaikannya semakin banyak. Umar menumpahkan perasaan hatinya itu kepada Allah swt. Umar meminta perlindungan Allah dari badai fitnah yang mungkin menimpanya dalam situasi seperti ini. Lalu, Umar ra memohon agar kematiannya adalah syahid di jalan Allah dan tempat wafatnya adalah kota Madinah Al Munawwarah.

Indah sekali tujuan yang diinginkan Umar dalam doanya. Mulia sekali perasaan yang tercurah dalam doa-doa Umar. Damai sekali kandungan makna cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah saw, hingga ia memohon agar jenazahnya berada tidak jauh dari jenazah Rasulullah saw yang mulia.

Saudaraku, inilah obsesi yang mulia yang dimiliki Umar. Ia memang tidak pernah sedikitpun bergantung pada urusan harta dan dunia dalam hidupnya setelah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Kehidupan Umar sangat sederhana, dan selalu lebih mementingkan orang lain dalam soal dunia. Dialah khalifah yang begitunhati-hati menjaga harta kaum Muslimin hingga ia mengatakan, “Posisiku terhadap harta baitul maal tidak lebih dari orang yang menjaga harta anak yatim.”

Saudaraku, bait-bait doa yang diucapkan Umar itu naik ke langit. Penggalan-penggalan permohonan yang muncul dari hati seorang shalih yang selalu berkeliling untuk memperhatikan orang lain, membagikan cintanya kepada banyak orang itu, diterima oleh Allah swt.  Seluruh pintanya terkabul. Ia sungguh-sungguh mati syahid karena tikaman seorang fasik di dalam masjid. Darahnya mengucur membasahi tanah Rasulullah saw.

Saudaraku, berbahagia dan bersyukurlah dengan keadaan ini. Perhatikanlah bagaimana dalamnya makna ucapan Umar ketika ia terilhami untuk berdoa dan pengabulan doa itu selalu beriringan dengan doa-doa yang diucapkan Umar ketika itu.

Saudaraku,

Maka, tanamkanlah obsesi akhirat di sini, di dalam hati dan dada kita. Bersihkan sedikit demi sedikit, dominasi dunia yang sudah lama menjadi raja dalam hati kita. Letakkanlah pandanga akhirat di sini, di dalam kelopak mata kita. Hamparkanlah perjalanan menuju akhirat di sini, di hadapan setiap kaki kita melangkah. Mari, menjadi manusia-manusia akhirat. Bukan manusia-manusia dunia. Karena seperti seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah, ” Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan aka datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudia tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu… “Mari hidup hanya untuk Allah saudaraku….Hanya untuk Allah..@

Sumber : Tarbawi-Edisi 111 23 Juni 2005

Hari Berbangkit Dan Padang Mahsyar

Pada satu masa nanti, yang kita kenal dengan hari berbangkit, yaitu ketika sangkakala pertama ditiup dan matinya semua mahluk, maka mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts atau hari berbangkit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak’. Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz-dzanab, darinya makhluk itu disusun kembali pada hari kiama.” (HR.Muslim IV/2270-2271).

Ketika Ajbudz-dzanab sudah tumbuh dan jasad-jasad sudah utuh kembali seperti semula, maka ditiuplah sangkakala yang kedua. Lalu kembalilah semua ruh ke dalam jasadnya masing-masing. Allah berfirman : “Apabila ruh-ruh dipertemukan (kembali dengan tubuh).” (QS At-Takwir : 7)

Pertama kali Allah berfirman :  “…sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS Al-Anbiya: 104).Demikianlah jika Allah telah berjanji, maka pasti Dia menepatinya. Dan Allah berfirman : “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari dalam kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang maha Pemurah dan benarlah rasul-rasulNya.” (QS Yasin : 51-52).

“(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).” (QS Qaaf:42)

(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS Al-Muthaffifin: 6)

Sesudah kebangkitan ini manusia digiring ke padang mahsyar (tempat berkumpul), Allah berfirman :

(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.” (QS Al-Qaaf:44)

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS Al-Kahfi:47)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.”(QS Yunus:45)

Saat tiba hari kiamat, umat manusia panik, nampak seperti orang-orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk. Mereka berhamburan bagai anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung hancur bagai bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian manusia mati semua.

Manusia dibangkitkan dengan berusia 33 tahun (sebagaimana dalam riwayat Muslim), dan hamba Allah yang pertama kali bangkit dan keluar dari kuburnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana dalam hadis riwayat Muslim).

Kemudian manusia digiring ke padang mahsyar, mereka dihimpun di bumi yang baru berwarna putih kemerah-merahan, bagaikan tepung roti yang dibakar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ

كَقُرْصَةِ نَقِىٍّ » . قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ : لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لأَحَدٍ .

Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih kemerah-merahan seperti tepung roti yang bersih”, Sahl atau yang lainnya berkata, “Tidak ada tanda (bangunan atau gedung) milik siapa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka dihimpun dalam kondisi telanjang, belum dikhitan, dan tanpa mengenakan alas kaki. Mereka digiring menuju mahsyar berkelompok, ada yang berkendaraan, ada yang berjalan kaki dan ada yang berjalan telungkup di atas wajahnya.

Anas bin Malik berkata: “Ada seorang yang berkata, “Wahai Nabi Allah! Bagaimana orang kafir dihimpun dalam kondisi telungkup di atas wajahnya? Beliau menjawab, “Bukankah Dzat yang mampu membuatnya berjalan dengan kedua kaki di dunia mampu membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?!” (HR. Bukhari)

Suasana di Padang Mahsyar

Manusia semua berdiri di hadapan Allah selama setengah hari, yang kadarnya satu hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ (المطففين 6) مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَ

Pada hari manusia bangkit menghadap Allah Rabbul ‘alamin (Al Muthaffifin: 6), selama setengah hari (dari satu hari yang kadarnya) lima puluh ribu tahun. Maka diringankan bagi orang mukmin (sehingga lamanya) seperti matahari menjelang terbenam sampai terbenam.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahut Targhib wat Tarhib no. 3589)

Di tempat itu, manusia merasakan kesengsaraan yang amat berat, bagaimana tidak? Pada saat itu, matahari didekatkan satu mil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ . فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا » .

Matahari akan didekatkan dengan makhluk pada hari kiamat sehingga jaraknya satu mil. Ketika itu, manusia berkeringat sesuai dengan amalnya. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai ke mata kaki, ada pula yang sampai ke kedua lutut, ada yang sampai ke pinggangnya dan ada yang tenggelam oleh keringatnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya ke mulutnya.

(HR. Muslim)

Di tengah suasana yang panas itu, ada sekelompok manusia yang beruntung dan berbahagia karena mendapat naungan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang ‘adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang cinta karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya, seorang yang diajak mesum oleh wanita yang berkududukan dan cantik lalu ia mengatakan “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya dan seorang yang mengingat Allah di tempat yang sepi, lalu kedua matanya berlinangan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada pula amalan lain yang dapat mendatangkan bantuan dan naungan Allah, yaitu: sedekah, membaca surat Al Baqarah dan Ali Imran, serta memudahkan orang yang kesulitan (lihat dalil-dalilnya dalam buku “Rintangan Setelah Kematian”).

Di padang mahsyar, Allah menghardik dan mencela orang-orang kafir di hadapan seluruh makhluk, karena tindakan mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala dan mengkultuskan orang shalih serta fanatik terhadap sesembahan nenek moyang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al An’am: 94)

Dari ayat-ayat tersebut menjadi jelaslah bagi kita akan petunjuk Allah, bahwa pengumpulan manusia (hasyr) adalah salah satu kenyataan akhirat, yaitu Allah Yang Maha Pencipta mengumpulkan mereka menuju padang mahsyar dari tempat kebangkitan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda-beda.

Di sanalah semua makhluk akan berdiri lama sekali menunggu putusan pengadilan Allah. Sementara keadaan mereka bermacam-macam berdasarkan amal perbuatan mereka di dunia. Maka ditampakkanlah semua amal-amal manusia dan tidak akan pernah disembunyikan oleh siapapun dan dari siapapun. Di tambah lagi dengan ketakutan dan kengerian di tempat mereka berdiri. Maka nampaklah mereka berusaha untuk mencari seseorang yang dapat memberi syafa’at untuk mereka kepada Allah agar segera memutuskan hukuman di antara mereka. Maka mereka memohon kepada bapak mereka Adam as lalu beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Nuh as, dan Nuh pun menyuruh mereka pergi kepada Ibrahim as, lalu Ibrahim menyuruh mereka mendatangi Musa as, semuanya beralasan bahwa Allah pada hari itu murka, belum pernah murka seperti itu dan  nampaknya tidak akan murka sesudah itu, serta mereka beralasan pula dengan kesalahan yang pernah terjadi pada diri mereka. Lalu Musa as menyuruh mereka mendatangi ‘Isa as dan beliau beralasan bahwa Allah sedang murka, tidak pernah murka seperti itu, dan tidak akan murka lagi nampaknya, kemudian beliau menyuruh mereka mendatangi  Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam, maka beliaupun memberi syafa’atnya. Kemudian Allah mengijinkan pelaksanaan qadha’ (putusan hukuman) bagi segenap mahluk.

Demikian inilah sekilas tentang keadaan kita setelah dihidupkan kembali oleh Allah subhanahu wata’ala di hari berbangkit atau yaumul ba’ts. Setelah kita keluar dari kubur kita masing-masing kita akan digiring ke padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di dunia, dan di sinilah akan ditentukan nasib kita apakah ke surga atau kah ke neraka. Wallahu A’lam.

Sumber : Dihimpun dari beberapa referensi terkait