Beberapa Kejadian Pada Hari Kiamat (5)

Kejadian kelima : SYAFA’AT

Syafa’at adalah mengumpulkan sesuatu atau menggabungkannya dengan yang lain sejenisnya. Syafa’at juga berarti wasilah atau perantara dan thalah atau permintaan. Ini adalah arti syafa’at secara bahasa. Adapun secara istilah, syafa’at adalah memintakan kebaikan untuk orang lain. Dengan kata lain, berpihak atau bergabung kepada orang lain sebagai penolongnya, dan sebagai orang yang memintakan kebaikan untuknya. Sedangkan yang lebih banyak dipergunakan dalam hal ini adalah bergabungnya orang yang lebih tinggi derajat dan martabatnya kepada orang yang lebih rendah. Termasuk syafa’at adalah do’a seseorang untuk saudaranya dan permohonannya kepada Allah agar menuntun saudaranya kepada kebenaran, atau agar menolak darinya segala marabahaya, atau agar mengampuni segala dosanya, baik itu dilakukan di dunia dari orang hidup untuk orang yang meninggal maupun pada hari Kiamat nanti.

Syafa’at merupakan satu sebab dari sekian sebab yang membuat Allah berbelas kasih kepada orang yang Dia kasihi dari hamba-hamba-Nya. Maka yang mendapatkan  syafa’at adalah ahli tauhid atau orang-orang yang hanya menuhankan Allah dalam iman dan amal-amal salehnya, dan yang terhalang dari syafa’at adalah ahli syirik. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمعَظِيمً٤

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) jika Dia (Allah) dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia (Allah) mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.”(QS.An-Nisa:48 dan 116)

Syafa’at di sisi Allah berbeda dengan syafa’at yang ada pada selain Allah. Ia harus  memenuhi dua syarat :

Syarat pertama:

Izin Allah pada Syafi’ atau orang yang memberi syafa’at untuk memebrikan syafa’atnya. Ini berdasarkan firman Allah sbb:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهٖۗ

“Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (QS.Al-Baqarah:255)

يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataanya.” (QS.Thaha:109)

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyak malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehndaki dan diridhai (Nya).(QS.An-Najm:26)   

Sayyidusy-syufa’a bersabda dalam hadits syafa’at yang panjang :

“Maka aku meminta izin kepada Rabbku, lalu diizinkanlah aku, Dia mengilhami aku bacaan-bacaan tahmid yang aku gunakan untuk bertahmid, aku tidak mengenalnya sekarang maka aku bertahmid dengan bacaan-bacaan tahmid itu aku menunduk sujud kepada-Nya. Kemudian dikatakan, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan dikabulkan, mintalah engkau akan diberi dan berikanlah syafa’at engkau akan dikabulkan syafa’atmu.” (HR.Al-Bukhari IX/179-180 dan Muslim I/180-181).

Syarat kedua:

Ridha terhadap masyfu’ lalu (orang yang disyafa’ati). Dan ridha Allah tidak dapat diperoleh kecuali dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apa yang Dia perintah adalah diridhai dan apa yang Dia larang adalah dimurkai. Dalil-dalil tentang hal itu banyak sekali, antara lain firma Allah:

” Mereka tidak memberikan syafa’at kecuali kepada orang yang Dia ridhai.” (QS.Al-Anbiya:28)

“Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (Ghafir:18).

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at darimorang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS.Al-Muddatstsir:48).

Sabda Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam dari Abu Hurairah ra :

“Setiap nabi mempunyai do’a mustajab dan setiap nabi bersegera menggunakan do’anya. Sedangkan do’aku, aku simpan sebagai syafa’at bagi umatku di hari Iamat. Ia akan didapat insya Allah oleh orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun.” (HR.Muslim I/189).

Dalil-dalil dua syarat ini banyak sekali. Semuanya menjelaskan syafa’at pada hari Kiamat tidak akan ada kecuali bagi orang-orang yang dizinkan-Nya dan Dia tidak akan mengizinkan kecuali bagi para wali-Nya (kekasih-Nya) yang pilihan. Dan para wali ini tidak akan memberi syafa’at kecuali kepada orang-orang yang diridhai Allah dari ahli tauhid. Sebagaimana syafa’at itu akan didapat oleh orang-orang yang mengucapkan, “Laa  ilaha illallah”, sekalipun sesudah masuk neraka, dengan mengentaskannya dari neraka. Syafa’at tidak akan ada dari ahli syirik, karena ia adalah milik Allah semata. Seperti firman-Nya :

“Katakanlah, kepunyaan Allahlah syafa’at itu semuanya.” (Az-Zumar:44)

Maka tidak diperbolehkan meminta syafa’at dari selain Allah subhanahu wata’ala.

Sumber : Dihimpun dari beberapa referensi terkait

 

Iklan