Beberapa Kejadian Pada Hari Kiamat (4)

 

Kejadian Keempat : SHIRATH

Shirath adalah thariq atau jalan. Yang dimaksudkan di sini ialah jembatan yang membentang di atas punggung Neraka jahnnam sebagai satu-satunya jalan menuju Surga Allah. Lewat di atas shirath adalah berlaku umum bagi seluruh manusia, yang tidak mungkin masuk ke Surga kecuali setelah berhasil melewati jembatan ini.

Allah berfirman :

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi tuhanmu adalah suatu keniscayaan yang sudah ditetapkan.” (QS.Maryam:71)

Dalam kaitan ini Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa melewati shirath adalah suatu pemandangan yang menakutkan, membuat orang lupa akan keluarga dan kerabatnya, sampai ia bisa lolos dan berhasil. Kemampuan menyeberang pada intinya adalah bergantung pada keistiqamahan seseorang dalam meniti agama Islam, atau ash-shirath al-mutaqim, atau jalan orang-orang yang diberi nikmat. Maka barangsiapa beristiqamah di atas agama yang diridhai Allah, yaitu shirath yang bersifat maknawi, maka ia akan mampu menyeberang di atas shirath yang bersifat indrawi sesuai dengan nilai istiqamah-nya.

Barang siapa menyimpang dari shirath mustaqim sewaktu kelapangan hidupnya di dunia, maka dia tidak akan tahan berada di atas shirath yang licin di saat kalut dan ketakutan pada hari Kiamat, dan dia benar-benar kehilangan kendaraannya, yaitu amal saleh.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan shirath, sifat-sifat dan penyeberangan di atasnya adalah sebagai berikut:

  1. Hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra dalam hadits yang panjang. Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:   “Dibentangkan shirath itu di antara dua tepi Jahannam. Aku dan umatku adalah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berbicara melainkan para rasul, dan do’a para rasul pada hari tiu adalah, ‘Allahumma sallim, sallim (Ya Allah! selamatkanlah, selamatkanlah).’ Dan di dalam jahannam terdapat kait-kait seperti duri pohon sa’dan’. Apakah kalian pernah melihat pohon sa’dan? Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau menjawab, ‘Dia itu seperti duri-duri pohon sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya selain Allah. Dia itu mmerenggut manusia sesuai dengan amal perbuatannya.  Maka di antara mereka ada yang tetap (tidak direnggut) karena amalnya, dan di antara mereka ada yang dibalas sampai diselamatkan…” (HR.Muslim I/163-166, lihat Bukhari VIII/146-148).
  2. Apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan dari Hudzaifah, Rasulullah sallallaahu’alaihi sallam bersabda -dalam hadits syafa’at yang di dalamnya terdapat- Lalu mereka mendatangi Muhammad SAW. Maka beliau berdiri kemudian diizinkzn baginya. Kemudian diutuslah amanah dan (silatur) rahim. Maka keduanya berdiri pada dua shirath sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama dari kalian melewati (shirath) bagaikan kilat. Ia bertanya, saya berkata, ‘ Kujadikan bapak dan ibuku sebagai tebusan bagi anda, apa itu seperti kita? Beliau bersabda: “Tidakkah kalian melihat kilat, bagaimana ia lewat dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian (ada yang) seperti jalannya angin, kemudian seperti terbangnya burung dan seperti larinya orang laki-laki. Dan amal-amal mereka berjalan membawa mereka. Nabi sallallahu’alaihi wasallam berdiri di atas shirath sambil berdo’a, Rabbi, sallim, sallim (Tuhanku, selamatkan, selamatkan) sampai ada hamba-hamba yang menjadi lemah amalnya, hingga datang seorang laki-laki dan ia tidak dapat berjalan kecuali dengan merangkak. Beliau bersabda, ‘Di antara dua sisi shirath terdapat kait-kait menggantung yang diperintah untuk mengambil orang-orang yang diperintahkan kepadanya (untuk mengambilnya), maka ada yang terluka kulitnya (tetapi) selamat (dari Neraka) dan ada yang didorong ke dalam Neraka.” (HR.Muslim I/186-187).

Dalam hadits-hadits tersebut terdapat dalil adanya shirath, sifatnya, dahsyatnya suasana dan bahwasanya amal-amal itu adalah sarana untuk melintasi shirath dan sebab keselamatan, seperti firman Allah:

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam Neraka dalam keadaan berlutut.” (QS.Maryam:72).

Maksudnya Allah menyelamatkan mereka sesudah melintasi  shirat, dan membiarkan orang-orang zhalim tetap berlutut di atas shirath, tidak bisa melewatinya.

Apabila kita perhatikan dari keterangan di atas, kenyataan-kenyataan yang ada di hari Akhir adalah samar, tidak mampu dimengerti dengan akal, karena memang tidak ada bandingnya dengan kenyataan duniawi. Maka wajib untuk tidak mengotak-atik hakikat perkara-perkara ini, dan menyerahkannya kepada ilmu Allah. Wallahu a’lam.  

Sumber :  Dihimpun dari beberapa referensi terkait

Iklan